Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Sepercik Hikmah Dari Dzun Nun, Sang Nabi Yang Menyeru Rabb-nya Dari Perut Ikan Paus



Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang pernah ada sepanjang sejarah. Ia mencakup segala hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya; tuntunan-tuntunan untuk ber-tafaqquh fiddin maupun bersosial, perintah serta larangan, kabar gembira dan ancaman, bahkan juga sejarah dari umat terdahulu yang bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya. Salah satu pelajaran menarik yang bisa kita ambil adalah mengenai istighfar Nabi Yunus alaihi salam dalam sebuah kisah yang Allah taala ceritakan di Surah Al-Anbiya’ ayat 87;

{و ذا النون إذْ ذهب مُغاضِبًا فظنّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عليه فنادَى في الظّلمات أنْ لأإلهَ إلأ أنْتَ سبحانك إني كنْتُ مِن الظالمين}


“Dan ingatlah kisah Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang dzalim.’”


Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya mengenai ayat ini menyebutkan bahwa Yunus bin Mata alaihi salam adalah seorang Nabi yang diutus kepada penduduk Nainawa, sebuah kota besar yang terletak di negeri Mausul. Nabi Yunus menyeru mereka untuk menyembah Allah, tetapi mereka menolak dan tetap tenggelam dalam kekafiran. Maka Nabi Yunus meninggalkan mereka dalam keadaan marah (padahal Allah belum memerintahkan beliau untuk pergi), seraya mengancam mereka bahwa dalam waktu tiga hari, akan datang azab dari Allah.


Setelah kepergian Nabi mereka, penduduk Nainawa menyadari bahwa tanda-tanda akan turunnya azab yang diancamkan Sang Nabi benar-benar terjadi. Karena ketakutan mereka akan azab tersebut, mereka segera bertaubat dan beriman kepada Allah. Dengan taubat tersebut, akhirnya azab tidak turun kepada penduduk Nainawa. Akan tetapi, Nabi Yunus yang sudah terlanjur pergi tidak mengetahui bahwa kaumnya telah bertaubat. Beliau ikut serta dalam kapal yang berlayar meninggalkan negerinya, dan karena kapal tersebut terancam tenggelam akibat kelebihan muatan, mereka harus mengundi para penumpangnya untuk menentukan siapa di antara mereka yang harus dilemparkan ke laut guna meringankan muatan kapal.


Dari undian tersebut, nama Nabi Yunus terpilih. Sang Nabi harus dilemparkan ke dalam lautan. Namun, Allah tidak menghendaki nabi-Nya binasa ditenggelamkan oleh gelombang laut. Ia memerintahkan seekor ikan paus untuk menelan Sang Nabi dalam keadaan hidup. Karena peristiwa dimakannya beliau oleh ikan ini, Nabi Yunus dijuluki sebagai Dzun Nun, yang artinya orang yang memiliki ikan besar.


Di dalam perut ikan paus tersebut, Nabi Yunus berada dalam kegelapan yang berlapis-lapis. Ibnu Mas’ud ra mengatakan bahwa dzulumat dalam ayat di atas maknanya adalah gelapnya perut ikan paus, gelapnya lautan, dan gelapnya malam hari. Dalam keadaan se-mencekam itu, Nabi Yunus menyeru Rabb-nya dengan doa yang disebutkan di ayat 87 surah Al-Anbiya’ di atas; Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minadzoolimiin.


Sehubungan dengan kisah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi no. 3505; “Doa Dzun Nun ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah Laa Ilaaha illaa Anta subhaanaka inni kuntu minadzoolimiin (tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat dzolim). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah kabulkan baginya (doa tersebut).”

Bayangkan, jika kita berdoa mengadukan permasalahan kita dengan didahului membaca doa ini, doa kita ‘dijamin’ terkabul! Walaupun tentu saja, tetap ada syarat-syarat dan adab yang harus kita lazimi agar doa kita diterima. Terlepas dari hal itu, yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa doa Nabi Yunus as ini ‘sangat mudah’ dikabulkan?

Jika kita cermati, ada tiga keutamaan yang bisa kita dapatkan dari lafadz laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minadzoolimin di atas. Yang pertama pengakuan tauhid dalam kalimat laa ilaaha illaa anta. Tidak ada Tuhan yang patut diibadahi selain Allah. Kalimat tauhid ini Nabi Yunus ucapkan di awal doa karena ia adalah unsur yang paling penting dalam peribadahan seorang hamba kepada Rabb-nya, yaitu bersih dari segala sesuatu yang berbau kesyirikan. Jumhur ulama sepakat bahwa syarat pertama diterimanya sebuah ibadah di sisi Allah adalah bersih dari unsur kesyirikan, sementara syarat keduanya adalah sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Jadi, doa Nabi Yunus ini sudah mengandung unsur paling utama dalam sebuah ibadah; bebas dari kesyirikan.


Yang kedua, setelah mengakui keesaan Allah dengan penuh keyakinan, Nabi Yunus melanjutkan doanya dengan lafadz subhaanaka yang di dalamnya terdapat pujian terhadap Rabb semesta alam. ‘Maha Suci Engkau,’ kata Sang Nabi. perkataan ini mengisyaratkan bahwa hanya Allah-lah yang patut dipuji, sementara beliau (dan kita semua) sebagai manusia tidak patut menerima pujian karena banyaknya kekurangan dan kesalahan yang kita lakukan.


Dari lafadz subhaanaka ini, kita bisa melihat Nabi Yunus mendahulukan pujian terhadap Allah dalam doanya, dan ini selaras dengan sabda Rasulullah saw dalam penggalan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Fadhalah bin Ubad ra,


"... إذا صَلَّيتَ فقَعَدْتَ فاحْمد اللّهَ بما هو أهله و صلِّ علَيَّ ثم ادْعه ..."


Apabila engkau telah selesai melaksanakan shalat lalu engkau duduk berdoa, maka (terlebih dahulu) pujilah Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya dan bershalawatlah kepadaku, kemudian berdoalah.” (HR. At-Tirmidzi [no. 3476] dan Abu Dawud [no. 1481])


Setelah memuji Allah, barulah Nabi Yunus mengakhiri doanya dengan kalimat inni kuntu minadzoolimin, di mana dengan kalimat tersebut, beliau mengakui segala kesalahannya, juga mengakui bahwa beliau hanyalah seorang hamba yang bisa berbuat dzalim. Sang Nabi merendah di hadapan Allah serendah-rendahnya dan memohon ampunan-Nya. Pada akhirnya, Allah mendengar doa tersebut dan menyelamatkan beliau dari perut ikan paus. Allah ta’ala berfirman dalam ayat berikutnya,


{فاسْتجَبْنا له و نجَّيْناه من الغَمّ و كذلك نُنْجِي المؤمنين}


Maka Kami kabulkan (doanya) dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”


Alangkah indahnya akhlak para nabi ini. Mereka yang merupakan manusia paling mulia di atas muka bumi, tidak menyombongkan diri dengan status kenabiannya dan ikhlas merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Rabb mereka. Mereka selalu berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu atas dasar rasa takut kepada Allah. Ketika tanpa sengaja melakukan kesalahan, Allah tak segan-segan segera menegur mereka, dan mereka selalu menyambut teguran tersebut dengan taubat yang sungguh-sungguh.

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik (bagimu).” Demikian Allah mengajarkan pada kita, dalam sebuah ayat di surah Al-Ahzab. Rasulullah saw (juga para utusan Allah yang lain) diutus sebagai suri tauladan yang sempurna untuk kita. Maka alangkah baiknya apabila kita sebagai orang yang mengaku mengikuti dan beriman kepada para nabi dan rasul, mengikuti kebaikan-kebaikan mereka yang Allah kisahkan dalam Al-Qur’an, paling tidak dari hal-hal terkecil yang kita bisa. Agar setidaknya, meski kita bukanlah manusia semulia mereka, kita tidak tersesat dan kehilangan arah dalam menjalani kehidupan di dunia.


Bukankah Allah pun juga berfirman, “Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran.” ?


Semoga Allah izinkan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang apabila mendengar ayat-ayat-Nya, kita bisa mengambil pelajaran dan kembali kepada kebenaran yang Allah tunjukkan.


Wallahu ta’ala a’lam bisshowaab.


Via Nur Karima


82 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.