Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Resensi Dauroh Kitab Fiqhu Ahkam Al-Tajwid (Hari Pertama)

Sabtu (8/02/2020) Daurah hari pertama buku Fiqh Ahkam al-Tajwîd bersama penulis, Dr. Muhammad al-Dusuqi Kahila dimulai. Acara ini diikuti oleh 107 orang dan bertempat di Sekretariat Rumah Tahfidz Mesir Banin.


Dengan gaya santai pemateri langsung mengambil perhatian hadirin. “Bagaimana menurut kalian, kenapa kita tidak meng-idgham huruf ta dalam kata اِلْتَقَى (iltaqa) namun justru meng-idgham-kannya dalam kata التَّائِبُونَ (at-Taaibun) padahal keduanya disusun dari huruf awalan yang sama, yaitu huruf alif, lam dan ta, ada yang tau?” lempar pemateri pada hadirin.

Karena tak ada jawaban dari peserta, beliau pun menimpal: karena huruf lam dalam kata iltaqa adalah huruf asli sedangkan dalam at-Taaibun adalah tambahan, adapun idgham tidak memainkan perannya tehadap huruf asli. Sebab huruf yang bisa didgham-kan hanya huruf tambahan saja. Karenan nantinya, jika huruf asli tersebut di-idghamkan akan ada prasangka bahwa huruf yang diighamkan tersebut bukan asli namun tambahan. (lihat hal. 58)


Kira-kira begitulah Dr. Kahilah menjelaskan isi dan tujuan dari kitab miliknya, yakni mencari sebab dan hikmah yang tersirat dari ilmu tajwid. Atau dalam bahasa beliau, buku ini hendak melihat ilmu tajwid namun dalam aspek filosofis. Ini bisa kita lihat dari nama bukunya, yakni Fiqhu Ahkam Al-Tajwid, sebab kata ‘fikih’ mempunyai makna pemahaman secara mendalam; yakni memahami 'apa dan kenapa' dalam hukum-hukum tajwid.


Dr. Kahila juga tidak bertele-tele mendikte tajwid dari dasarnya –sebagaimana untuk pemula; seperti pengertian tajwid, hukum belajar tajwid, dsb– karena hal itu sudah masyhur dan tidak cocok untuk kalangan mahasiswa. Walaupun hal tersebut dicantumkan olehnya di pembahasan awal kitabnya.


Sebagaimana yang disebutkan di atas, di pembukaan, ia langsung memberikan pertanyaan tentang beberapa hukum tajwid; mengapa hukum itu seperti demikian, sedang yang ini demikian? Apa sebabnya? Ini semua demi mengambil simpati pendengar dan sebagai barâ’ah al-istihlal; (sebuah penyampaian yang langsung menyinggung jantung pembahasan), karena memang bukunya dikhususkan tentang relasi antara hukum tajwid dengan ‘illah/sebabnya. Karenanya, bisa dibilang, buku ini kurang cocok jika diperuntukkan untuk pemula dalam ilmu tajwid.


Urutan abjad yang beliau pakai juga bukan abjad kontemporer –Aa, Ba, Ta, Tsa– yang kita kenal, melainkan urutan abjad kuno, pusakanya abjad Arab, yaitu milik Kholil bin Ahmad al-Farahidi, Bapaknya ilmu bahasa Arab, dengan urutan makhraj terdalam, mulai dari tenggorokan hingga makhraj terluar, syafatain (bibir) –Alif, ‘Ain, Ha’, Hâ, Ghoin, dst. Kendati demikian, beliau sudah sangat berusaha menggunakan ibarat yang renyah dan bernada pelan agar mudah dicerna oleh audiensnya.


Karena urutan makhraj yang dipakai, pembahasan pun dimulai dari makhraj setiap huruf dan karakteristik masing-masing. Contohnya Hamzah, ia merupakan makhraj terdalam, ‘Aqsha al-halqi (puncak tenggorokan). Karena dalamnya makhraj maka secara automatis ia sukar untuk dibaca. Hal ini menjadikan Hamzah sering mengalami pengubahan bentuk menjadi lebih ringan, seperti diubah menjadi Alif, atau bahkan dihapus. Begitu pula ‘Ain, ketika ‘Ain sukun bertemu dengan Tha, terkadang –salah satu lahjah Arab– ‘Ain diubah menjadi Nûn, karena kedua huruf (‘Ain dan Tha) sama-sama sukar untuk diucapkan, seperti kata a’thainâ menjadi anthainâ.


Setelah pembahasan makhraj, Dr. Kahilah melanjutkan pemaparannya ke sifat setiap huruf. Sifat huruf itu dibagi menjadi dua macam: ada yang memiliki pasang (memiliki sifat kebalikannya) dan ada yang sendirian tanpa pasangan. Sifat yang memiliki pasangan seperti Jahr dengan Hamz, Syiddah dan Rakhawah, Isti’la’ dan Istifal, Dzilaqah dan Ishmat. Sedangkan sifat yang tidak memiliki pasangan seperti Gunnah, Shafir, dan Qalqalah. Setiap sifat memiliki karakteristik masing-masing, hal ini yang beliau tekankan dalam pembahasan.


Namun sekali lagi, pada bab makharij dan sifat, yang ia jelaskan bukan sekadar definisi saja, melainkan berbagai sebab yang tersirat seputar dua bab tersebut, seperti ‘kenap dinamakan hams? Kenapa kita menyifati hurufus syiddah dengan huruf yang kuat? Kenapa dinamakan huruf isti’la’? dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pertanyaaan “kenapa” bukan hanya “apa”


Lalu, setelah mengetahui makhraj dan sifat setiap huruf, baru beliau masuk kedalam ranah yang lebih inti, yaitu hukum-hukum tajwid; Idzhar, Idgham, Iqlab dan Ikhfa. Di sini beliau lebih banyak membawa perhatian pendengar dengan metode pertanyaan, bahkan dengan iming-iming uang hingga 100 le bagi yang bisa jawab –karena rata-rata pertanyaanya sukar dijawab, atau bahkan tidak mungkin terjawab sebab ia tau pertanyaannya tidak memiliki jawaban.


Pertanyaan yang dilontarkan lebih dominan tentang ta’lîl (penjelasan sebab/alasan) dari setiap hukum, yang mana hal itu jarang sekali dibahas di ilmu Tajwid mainstream lainnya. Hal ini menambahkan perhatian hadirin karena merupakan sesuatu yang baru di pandangan mayoritas.


Pembahasan yang jelas, runtut, mendalam yang dibarengi dengan pembawaan yang asik, unik, tak membosankan sangat mempengaruhi perhatian dan pemahaman audiens. Begitulah sekilas apa yang dibedah oleh penulis dalam kitabnya Fiqh Ahkam al-Tajwîd. Meski ada beberapa pembahasan yang dilompati olehnya, namun itu tidak mengurangi penjelasan yang dipaparkannya. Atau mungkin penulis tau, bagian yang ia lompati ini, andai dibaca sendiri, akan mudah.


Toriqul Fakhri

(Santri Rumah Tahfidz Mesir, Fakultas Bahasa Arab Tkt 3)

200 views1 comment

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.