Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Resensi Dauroh Fiqhu Ahkam Al-Tajwid (Hari Kedua)



Dr. Muhammad Dasuqi Kahilah melanjutkan penjelasan atas kitab Fiqhu Ahkam Al-Tajwid pada pertemuan kedua bersama peserta Dauroh di Sekretariat RTM Banin, Ahad (9/02/2020).


Kali ini ia masuk pada pembahasan Mad. Sebagaimana maklum adanya, jika terbebas dari sebab-sebabnya, maka mad tersebut kita namai mad thabi’i. Sedangkan jika terdapat sebabnya, yaitu hamzah, tasydid atau sukun, maka mad tersebut dinamakan mad far’i dan hal itu banyak macamnya.


Masih seputar pertanyaan ‘kenapa’, sebagaimana tujuan dari kitab ini, pemateri bertanya, “Kenapa kita wajib memanjangkan 4 harakat dalam mad wajib muttasil, namun boleh tidak memanjangkannya dalam mad jaiz munfasil?” sebelum mendengar jawaban ini, bisa dibilang saya –atau bahkan kita semua– hanya ‘ngikut’ apa yang diajarkan dan yang tertera di buku saja. Namun ketika mendengarkan penjelasan ini, ada rasa puas tersendiri karena dapat memahaminya lebih dalam dan bisa lebih melekat.


Kata pembina Markaz Kahilah tersebut, kita akan kesulitan membaca sekaligus memperjelas huruf hamzah dalam sebuah kata yang sebelumnya ada huruf mad jika tidak kita baca panjang. Hal ini karena huruf hamzah adalah huruf berat yang memiliki kompleksitas dan kerumitan, dan sekali lagi kita akan kesulitan menyebutkannya jika sebelumnya tidak dibaca panjang atau hanya panjang yang biasa. (lihat hal. 132)


Adapun mad jaiz munfashil, ia bisa dibaca hanya dua harakat, ini karena antara huruf mad dan hamzah terdapat jeda waktu (muddah zamaniyyah), sehingga membuat huruf mad tidak berinteraksi langsung dengan huruf hamzah. Dan inilah sebab kenapa ia bisa dibaca panjang hanya 2 harakat.


Selain muttasil dan munfasil, pemateri juga menjelaskan macam mad yang lainnya seperti mad lazim atau mad badal. Namun yang terpenting, jelas beliau, faktor yang menjadikan diberlakukannya hukum mad bukanlah aspek lafadz (lafdziy) namun aspek makna (ma’nawiy).


Mudahnya begini, jika ada mad bertemu dengan hamzah di dua kalimat maka kita boleh memanjangkannya baik 4 atau 2 harakat. Ini namanya aspek lafdziy. Sementara ulama, kata Syekh Kahilah, tidak hanya memerhatikan aspek ini. Sebab berapa banyak bacaan yang dibaca mad bukan karena segi lafadz, melainkan juga makna. Contohnya dalam qiraat Hamzah, mereka memanjangkan huruf la nafiyah lil jins dengan alasan ‘terbebas’ (tabri’ah) atau ‘sama sekali tidak’. Karenanya, saat membaca awal al-Baqarah pada kalimat لا ريب فيه mereka memanjangkan huruf ‘la’ tersebut hingga 4 harakat dengan alasan al-Quran sama terbebas dari keraguan atau tabri’ah barusan. Nah, sebagaimana yang disinggung barusan, factor dipanjangkannya bacaan tersebut bukanlah karena aspek lafadz, melainkan karena aspek makna. Dan inilah yang dimaksud oleh pemateri.


Melihat mad dalam perspektif ini rasanya membuat kita ‘melek’ akan apa di balik tajwid. Jika sebelumnya kita hanya tau “kalau begini dibaca begini” sekarang kita mengetahui hal yang lebih jauh dari itu ataupun yang tersirat di balik itu.


Selain mad peserta juga disajikan permasalahan –yang sepertinya sering dianggap remeh– namun urgen untuk diketahui, khususnya bagi para pengkaji ilmu qira’at. Seperti pembahasan ha’ kinayah, mim jamak, iltiqa sawakin, atauwaqaf wal ibtida.


Saya ambil satu contoh agar tidak terlalu panjang, yaitu mim jamak. Secara definisi mim jamak adalah mim yang ditambahkan sebagai penanda bahwa kata itu adalah jamak. Harakat asli mim jamak ini adalah dhommah dengan tambahan waw setelahnya عليهمو. Namun mayoritas qurra’ menghapus harakat dommah sekaligus waw nya dengan alasan untuk memudahkan (lit-takhfiif). Alasan mereka, karena mim berharakat dommah yang dipanjangkan, merupakan sesuatu yang berat untuk dilafalkan. Karenanyalah mereka menghapuskannya.


Disinilah letak perbedaan para ahli qiraat dalam membaca mim jamak ini. Sebagian ada yang mempertahankan harakat dhammah sekaligus mimnya, sebagian ada yang menghapusnya untuk memudahkan, dan sebagian lagi ada yang memanjangkannya jika bertemu dengan hamzah qot’i. (lihat hal. 144-145)


Dr. Kahilah tidak mempreteli bukunya bab per bab di dalam dauroh kali ini. Yang ia sajikan pada pertemuan kali ini mungkin hanya yang sering luput dari pembahasan para pelajar. Adapun selebihnya mungkin bisa dilihat dan ditelaah lewat buku miliknya. Ala kulli hal, buku ini ingin menyajikan berbagai pandangan filosofis dalam ilmu tajwid, yang mungkin belum ditulis oleh para pendahulu. Karenanya, mari dapatkan bukunya dan kaji! Wallahu a’lam bi al-Shawab.


Bana Fatahillah

(Santri Rumah Tahfidz Mesir, Mhs Jurusan Tafsir Universitas Al-Azhar)

114 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.