Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Pertemuan ke-7 Kitab Sofahaat: Merenungi Nasehat Ahmad bin Hambal dan Ibnu Khaldun

Rumah Tahfiz Mesir kembali menlanjutkan kajian kitab Sofahat Min Sobril Ulama bersama al-Ustdadz Azwar Anas, Jumat (13/3/2020). Pada kali ini pembahasan yang diangkat adalah perkataan Ahmad bin Hambal dan Ibnu Khaldun. Suatu hari Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya: “Bagaimana pendapat antum, apakah seseorang hanya belajar dari satu guru yang luas ilmunya, atau mengembara ke berbagai tempat?” Imam Ahmad pun berkata: “Ia harus mengembara! Ia harus belajar dari para ulama berbagai Negara, berinteraksi dengan banyak orang dan belajar dar mereka semua”

Kisah Imam Ahmad ini ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani di kitab Fathul Bari setelah menceritakan Jabir bin Abdillah, sosok sahabat Rasulullah yang rela mengembara pergi jauh hanya demi satu buah hadis. Bahkan orang yang dijumpai oleh Jabir bisa dikatakan masih di bawah derajatnya dalam hal meriwayatkan hadis Rasulullah. Padahal Jabir adalah sosok yang sudah duduk lama bersama Rasulullah dan banyak meriwayatkan perkataannya. Namun karena sifat haus yang sangat tinggi akan ilmu, ia rela menempuh perjalanan demi mendapatkan hadis tersebut, sekalipun hanya satu hadis. Ahmad bin Hambal juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang sama, apakah seseorang harus melakukan pengembaraan dalam menuntut ilmu? “Demi Allah itu harus!” tegas pelopor mazhab Hambali tersebut. kemudian ia menguatkan pendapatnya dengan kisah Alqamah bin Qais al-Khan’I dan Al-Aswad bn Yazin al-Khan’I yang sampai kepada mereka sebuah hadis yang diriwayatkan Umar. Karena kurang puas dengan sebatas kabar, ia pun menempuh perjalanan dari Kufah, Iraq, menuju Madinah, demi satu buah hadis tersebut. Perkataan Ahmad bin Hambal bukanlah omong kosong atau retorika semata. ini sudah terbukti ratusan bahkan ribuan tahun. Para ulama kita tidak ada yang tidak, alias pasti, melakukan pengembaraan dalam menuntut ilmu. Hal itu seakan menjadi sunah bagi para penuntut ilmu. sebab, kata para ulama, diamnya kita di kawasan kita tidak akan banyak menghasilkan sesuatu. Bahkan Imam Syafi’I mempermisalkan orang yang tidak mengembara layaknya genangan air yang tidak mengalir yang keberadaannya hanya mengganggu dan merusak. Selanjutnya penulis menukil perkataan bapak ilmu Sosiologi yang pemikirannya sudah meluas sampai dunia barat, yaitu Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun atau yang dikenal dengan Ibnu Khaldun (w. 808 H). dalam hal ini Ibnu Khaldun bukan hanya menghimbau pentingnya sebuah pengembaraan dalam menuntut ilmu, melainkan juga pentingnya bertatap muka (al-Mubasyarah) dengan seorang guru. Lebih jelasnya, dalam masterpiece yang berjudul Muqaddimah ia berkata: “Sesungguhnya pengembaraan dalam menuntut ilmu dan bertatap muka dengan seorang guru merupakan hal yang melengkapi sebuah pembelajaran.” Sebab menurut Ibnu Khaldun dengan bertatap muka dihadapan guru itulah seseorang dapat mengetahui mana metode belajar dan mana pelajaran itu sendiri. Sebab berapa banyak orang yang keliru antara keduanya sehingga menganggap apa yang sebenarnya metode belajar sebagai inti dari pelajaran. Al-Ustadz Azwar Anas turut menambahkan bahwasanya bertatap muka dengan guru, selain menerangkan hal-hal sulit dalam pejaran, ia juga mampu memotivasi seorang pelajar untuk bisa seperti gurunya, baik dari segi keilmuan maupun budi perketi. Kehadirannya seakan seperti ‘setruman’ untuk memantik semangat para murid. Dan inilah kenapa bertemu dan duduk dihadapan seorang guru menjadi media penting bagi seorang penuntut ilmu. bahkan bisa dikatakan harus.

Terakhir, ada baiknya kita merenungi nasehat Imam Ahmad dan Ibnu Khaldun di atas, khususnya kita sebagai pelajar di era yang penuh tantangan ini. Semoga dapat diamalkan dengan baik. Wallahu a’lam.

Bana Fatahillah

116 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.