Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Mengenal Biografi Syekh Mutawalli Al-Sya'rawi


Dr. Umar Hasyim, seorang pakar dan raksasa hadis milik Al-Azhar saat ini pernah berkata: “Sesungguhnya Imam Sya’rawi adalah satu di antara pemuka agama yang ditangannya Allah takdirkan sebuah ‘pembaruan’ bagi umat Islam.”


Begitulah sanjungan Dr. Umar Hasyim kepada ulama kontemporer yang dijuluki sebagai imam al-Du’at (pemimpin para da’i) tersebut.


Alhamdulillah, atas izin Allah Swt., kami, keluarga Rumah Tahfidz Mesir (RTM) dapat berkunjung ke makamnya dalam agenda Rihlah Ruhaniyyah. Sungguh suatu nikmat bagi kami. Dan Untuk mengenangnya, mari sejenak kita mengenali biografi tokoh kontemporer di abad ini.


Putra kelahiran 15 April 1911 M tersebut telah selesai menghafal al-Quran diusianya ke-11. Sejak kecil, Sya’rawi muda telah terlihat kepandaiannya, ketekunannya, dan ketangkasannya dalam menghafal berbagai syiir, hikmah dan matan milik ulama.


Karenanya ia pun mendapatkan posisi khusus di antara rekan-rekannya, hingga terpilih sebagai ketua persatuan mahasiswa dan menjadi ketua perkumpulan sastrawan di Zaqaziq. Diantara rekan-rekan beliau adalah: (i) Dr. Muhammad Abdul Mun’im Khafaji (Penyair Thahir Abu Fasya) (ii) Prof. Khalid Muhammad Khalid (iii) Dr. Ahmad Haikal (iv) Dr. Hassan Gad.


Hidup Syekh Syarawi berupah total saat disuruh oleh ayahnya untuk belajar di al-Azhar. Awalnya ia menolak, dengan alasan ingin bekerja bersama saudaranya sebagai petani di desanya, Daqadus. Namun ayahnya terus memaksanya dengan sebuah janji akan membayar seluruh kebutuhannya baik bayaran sekolah ataupun tempat tinggalnya.


Syekh Sya’rawi pun akhirnya luluh. Namun ia memberikan syarat pada ayahnya untuk membelikan sejumlah kitab-kitab induk dalam bidang tafsir, bahasa, ulumul quran, hadis dll. Meskipun ini adalah hal yang memberatkan bagi ayahnya, namun ia rela memenuhi keinginan anaknya dengan membelikan buku-buku tersebut.


“Anakku, aku faham bahwa semua buku-buku tersebut sebenarnya tidak diwajibkan untuk kamu, tapo aku memilih untuk membelinya dalam rangka memberikan ilmu pengetahuan yang menarik agar kamu haus dengan ilmu,” begitu kata ayahnya


Syekh Sya’rawi pun mendaftarkan dirinya di Fakultas Bahasa Universitas al-Azhar pada tahun 1937. Selain aktif sebagai pelajar di fakultasnya, ia juga aktif dalam sejumlah gerakan mahasiswa yang diadakan oleh Al-Azhar. Sampai akhirnya ia pun lulus pada tahun 1940 dan tidak lama setelah itu, pada tahun 1943 ia ditugasi mengajar di Thanta, Zaqaziq dan Iskandaria.


Tidak hanya di mesir, keperkasaan ilmu Syekh Sya’rawi turut memicu pihak luar negri untuk mengundangnya. Tahun 1950 Universitas Ummul Quro mengundangnya untuk menjadi Dosen Syariah disana. Awalnya ia agak ragu, karenan pihak universitas menyuruhnya untuk mengajar Akidah, sementara ia menekuni bidang bahasa. Namun akhirnya ia menunjukan kompetensinya dan mendapat pengakuan dari pihak kampus.


Namun ia tidak bisa kembali lagi ke sana saat terjadi pertentangan antara presiden Gamal Abdunnasir dan pemerintah Saudi. Dan saat kembali ke Mesir ia dipilih menjadi Direktur di Kantor Syekh Azhar saat itu, Syekh Hasan Ma’amun.


Tak lama setelah itu, ia pun diutus oleh Al-Azhar ke al-Jazair untuk mengajar selama tujuh tahun. Di sana ia turut menyaksikan “musibah kemunduran” (al-Naksah), yaitu perang antara Israe dan tiga Negara arab jirannya, yakni Mesir, Yordania dan Suriah, yang berlangsung dari 5-10 Juni 1967. Ia pun akhirnya kembali ke Mesir.


Setelah kembali ia ditugasi sebagai kepada Departemen Agama Procinsi Gharbiyyah dan utusan khusus al-Azhar untuk mengajar di Universitas King Abdul Azis, Arab saudi

November 1976, Perdana Mentri Mesir, Mamduh Salim, memilihnya untuk memimpin Departemen Urusan Wakaf dan urusan al-Azhar. Perannya bagi al-Azhar dan pemerintahan Mesir sungguh luar biasa. Ia seorang ahli agama yang juga sangat handal dalam tata administrasi pemerintahan.


Di samping andilnya dalam dunia akademis, Syekh Mutawalli al-Syarowi turut memiliki peran penting dalam perekonomian mesir pada masanya. Beliaulah pencetus pertama keputusan mentri perihal pembuatan bank Islam pertama di Mesir, yakni bank Faishal, yang sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh warga mesir. Yang mana ini merupakan wewenang Dr. Hamid Sayyih, Mentri Ekonomi dan Keuangan, yang diserahkan kepadanya dan disetujui oleh warga parlemen Mesir.


Sekalipun menduduki kedudukan elite dan termasyhur, sikap wara’ dan tawadhunya tidak luntur. Ia juga seorang yang amat pemurah dan menafkahkan gaji yang diperolehnya bagi para pelajar, mahasiswa, hafidz al-Quran dan orang-orang miskin. Bahkan, royalti atas karya-karyanya banyak digunakannya untuk kegiatan-kegiatan sosial seperti membangun sekolah, masjid, memberikan santunan dan sebagainya


Demikian biografi singkat ulama yang dijuluki sebagai pemimpin para da’I tersebut. ia wafat pada hari Rabu, 16 Juni 1998 M. kepergiannya telah membuat umat bersedih. Namun tak bisa dipungkiri, ia telah menorehkan tinta emas kepada umat Islam dengan pemikirannya.


Sampai saat ini kita masih bisa menikmati nasehat dan ilmunya di berbagai media sosial kita. Baik tulisannya atau perkataannya sama-sama memiliki pengaruh besar bagi pribadi seseorang. Ia dapat menembus hati seseorang lewat keduanya. Sebab, sebagaimana yang sering dikatakan oleh para pujangga, “apa yang keluar dari hati, maka akan masuk ke dalam hati juga.”


Di antara kitab yang ditulisnya adalah: al-Islam wal Fikril Mu’ashir, al-Islam wal Mar`ah; Aqidah wa Manhaj, Mu’jizatul Qur`an, Al-Mar’atu Kamaa Aradallahu, Nazharaat fil Qur`an, dan Khawatirus Sya’rawi yang masyhur dengan nama Tafsirus Sya’rawi, yang merupakan masterpiece miliknya.


Terkait tafsir milikya, hakikatnya itu adalah penjelasan dan pemikirannya tentang tafsir al-Quran yang direkam di salah satu chanel tv pada tahun 1980. Ia menafsirkan dan menjelaskan kandungan al-Quran mulai dari al-Fatihah hingga surat al-Mumtahanah. Bukan tidak mau menamatkannya, namun ia telah lebih dahulu dipanggil ke sisi Allah Swt.


Dengan segala inisiatifnya, para murid Syekh Syarowi pun mengumpulkan sejumlah rekaman yang menjelaskan tafsir surat setelah al-Mumtahanan hingga Al-Naba. Mereka pun mengumpukan rekaman ini dari awal hingga akhir dan menuliskannya menjadi satu buku tersendiri yang masyhur dengan tafsirus Sya’rawi tersebut.


Wallahu a’lam bisshowab


Bana Fatahillah

(Ketua Rumah Tahfidz Mesir)


Sumber: Kitab Khowatir al-Sya’rawi, muslimmediamews.com



1,675 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.