Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Majlis ke-9 Kitab Sofahaat: Siasat Baqiy bin Makhlad untuk Belajar ke Ahmad bin Hambal




Dalam lanjutan kajian kitab Sofahat min Sobril Ulama pada Kamis, (26/3/2020) kami melewati kisah ulama asal Cordoba, Andalus, bernama Baqiy bin Makhlad (w. 276 H).


Cerita ini bermula saat Baqiy bin Makhlad yang saat itu umurnya sekitar 20-an pergi ke Baghdad untuk belajar pada Ahmad bin Hambal.


Namun di perjalanan ia mendengar hal yang sedang dialami sang Imam, yakni Mihnah (sebuah ujian yang diberikan oleh negara), sehingga membuat ia tak bisa bertemu dengannya. Sebab saat itu Negara memberikan kebijakan untuk melarang Imam Ahmad mengadakan halaqah dan menyampaikan hadis.

Sesampainya di Baghdad ia pun mencari tempat tinggal untuk disewakan. Dan setelah meletakan semua barangnya ia pun pergi ke sebuah masjid. Disana ia mendengar seorang syekh yang mengajarkan ilmu jarh wa al-Ta’dil. Ternyata syekh tersebut adalah Yahya bin Ma’in, seorang ulama yang memang pakar dan masyhur dalam ilmu tersebut. Usai majlis, Baqiy pun sontak berdiri dan melontarkan sejumlah pertanyaan. Ia menayakan status orang-orang yang pernah ia ambil hadis darinya, salah satunya Hisyam bin Ammar. Dengan mudah Semua pertanyaan itu dijawab oleh Yahya bin Ma’in. Saking banyaknya pertanyaan Baqiy, orang-orang yang ada di majlis itu pun meneriakinya: “cukup wahai kawan! Disini banyak yang ingin bertanya juga!” tanpa memedulikannya, ia pun sampai pada pertanyaan terakhirnya: “Menurutmu bagaimana dengan sosok bernama Ahmad bin Hambal?”

Mendengar itu Yahya bin Ma’in pun melihatnya dengan tatapan orang kaget kemudian berkata: “Orang seperti kita ditanya tentang Imam Ahmad bin Hambal?! Beliau adalah panutan kaum muslimin; yang paling baik dan paling mulia.” Karena penasaran, putra kelahiran Andalus itu pun mencari rumah Imam Ahmad bin Hambal. Setelah ditunjukkan rumahnya, mengetuk pintunya dan bertatap dengannya, ia pun berkata:

“Wahai Imam saya ini orang yang rumahnya jauh dan ini kali pertama saya datang ke negri Baghdad. Kedatanganku saat ini dengan maksud mendengar hadis dan menuliskannya darimu. Sungguh perjalanannku ini tidak lain hanyalah untuk bertemu dirimu seorang” Imam Ahmad sempat kaget ketika mengetahui daerah asal Baqiy, yakni Andalus. Jarak ke Baghdad sangatlah jauh. Ia pun mengatakan pada Baqiy bahwa dengan senang hati ia akan menerima tawarannya, terlebih orang seperti Anda, yakni Baqiy, yang datang jauh-jauh demi sebuah ilmu. Namun untuk saat ini, lanjut Imam Ahmad, aku sedang menjalani proses mihnah, yang mungkin kau sendiri sudah mendengar kabarnya. Ujar Imam Ahmad. Meski mengetahui hal tersebut, namun Baqiy tidak mau berputus asa begitu saja untuk belajar pada sang Imam. Akhirnya ia pun mendapat siasat untuk bertemu dengannnya. Ia berkata: “Wahai Imam, saya yakin disini tidak ada yang mengetahui saya. Kalau kau mengizinkan saya akan datang ke rumahmu setiap hari dengan pakaian pengemis dan berteriak apa yang biasa dikatakan oleh pengemis itu. Dan saat itulah Engkau keluar dari rumahmu (untuk menyampaikan hadis). Andai hanya satu hadis saja di setiap harinya, maka sungguh itu sudah sangat cukup bagiku!” Sambil merenungkan, Imam Ahmad pun mengiyakannya. “Oke, namun dengan syarat jangan sampai terlihat oleh orang yang ada di majlis ataupun ahli hadis lainnya!” jawab Imam Ahmad “jika memang itu syaratnya, maka baiklah!” tutup baqiy Dengan berpenampilan pengemis, yakni kain yang menutup kepalanya, tongkat di tangannya, serta buku catatan dan pulpen yang disembunyikan di lengan bajunya, Baqiy menuju rumah Imam Ahmad untuk mendengar hadis. Saat tiba di depan pintu, Baqiy akan berteriak sepertihalnya pengemis. Dan saat itulah Imam Ahmad keluar dan menyuruhnya masuk secara diam-diam kemudian membacakan padanya satu, dua, tiga atau bahkan beberapa hadis kepada si pengemis tersebut. Begitulah seterusnya sampai hadis yang ditulis Baqiy mencapai sekitar 300 hadis. Pertemuan ini terus berlangsung hingga khalifah saat itu wafat dan tidak ada lagi mihnah bagi Imam. Nama Imam Ahmad pun semakin tersohor. Semua berdatangan padanya untuk belajar berbagai ilmu. putra Andalus itu mengatakan: jika aku hadir ke majlisnya, Ia akan memanggilku untuk duduk di dekatnya kemudian berkata dihadapan murid-muridnya yang lain: “seperti inilah seharusnya penuntut ilmu itu!” kemudian ia menceritakan kisah bagaimana Baqiy belajar hadis darinya. Dari kisah ini kita tentu bisa mengambil beberapa pelajaran, di antaranya melakukan pengembaraan dalam menunut ilmu. Bayangkan, Baqiy bin Makhlad yang tinggal di Andalus menempuh perjalanan ke Baghdad. Dan itu jalan kaki. Lantas Kita bagaimana. Sudah ada banyak fasilitas di sana sini, dan masih mau malas-malasan? Kemudian juga niat dan tekad yang kuat untuk menuntut ilmu. Lihatlah bagaimana keinginan Baqiy untuk mendengar hadis dari Imam Ahmad di atas. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Bana Fatahillah

(Santri Rumah Tahfidz Mesir)

47 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.