Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Majlis ke-4 Kitab Sofahaat: Kisah Nabi Adam dan Sejumlah Faidah di Dalamnya

Updated: Mar 24, 2020



Bab pertama pada buku ini berjudul “mereka yang mengorbankan lelahnya, penatnya serta mengembara dalam menuntut ilmu ke tempat yang amat jauh” (fi akhbaarihim fi al-Ta’ab wa al-Nashab wa al-Rihlah fi thalab al-‘Ilmi wa qhat’I al-Masafaat). Syekh Abdul Fatah membuka bab ini dengan kisah Nabi Adam yang berbunyi:


«عن أبي هريرة رضي الله عنه ، عن النبي -صلى الله عليه وسلم قال : خلق الله عز وجل آدم على صورته، طوله ستون ذراعا، فلما خلقه، قال : اذهب فسلم على أولئك النفر، وهم نفر من الملائكة جلوس، فاستمع ما يحيونك، فإنها تحيتك وتحية ذريتك ، فقال : السلام علیکم فقالوا : السلام عليك ورحمة الله ، فزادوه : ورحمة الله ، فكل من يدخل الجنة على صورةآدم، فلم يزل الخلق ينقص بعده حتى الآن

Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt menciptakan Adam dengan tinggi 60 dhira’, kemudian Dia berfirman: “Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat itu, lalu dengarkanlah salam penghormatan mereka kepadamu; sebagai salammu dan salam keturunanmu.” Maka Adam berkata, “Assalaamu’alaikum.” Mereka menjawab, “Assalaamu’alaika wa rahmatullah,” mereka (para malaikat) menambah lafadz “wa rahmatullah.” Dan kelak setiap orang yang masuk ke surga akan seperti rupa Adam, dan bentuk makhluk senantiasa berkurang (semakin pendek) hingga sekarang.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Adapun di antara faedah yang dapat kita ambil dari hadist di atas, ialah sebagai berikut:


1. Anjuran untuk melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu


Dan inilah faidah pertama yang dapat dijadikan alasan ‘kenapa hadis ini diletakan pada bab ini’. Para ulama mengatakan bahwa lafadz اذهب menunjukkan adanya jarak yang jauh antara nabi Adam dengan para malaikat. Maka dapat disimpulkan bahwa adanya anjuran untuk melakukan perjalanan dalam menuntut dan memperoleh sebuah ilmu. Dan dalam hal ini Nabi Adamlah manusia pertama yang menerapkan ini.


2. Belajar kepada yang ahli dalam bidangnya

Hal ini berdasarkan lafadz hadits فاستمع ما يحيونك.

Kalimat استمع bermakna mendengarkan dengan kehati-hatian dan dengan tujuan, berbeda ketika menggunakan kalimat سمع yang bermakna mendengar tanpa niat dan tujuan. Dalam surat An-Nahl :43 , Allah berfirman:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika mereka tidak mengetahui.


3. Adab salam

- Dari hadis ini kita bisa menjawab pertanyaannya: ‘siapa yang harus memulai salam?, maka dalam hal ini yang dianjurkan untuk memulai salam adalah orang yang datang kepada orang yang duduk. Ini sebagaimana salah satu hadis Rasulullah yang menghimbau ucapan salam bagi orang yang berkendara pada orang yang jalan, yang lewat untuk yang duduk, dan seterusnya.

- Dianjurkan juga mengucapkan salam dengan bentuk yang telah disyariatkan. Sebagaimana yang ada pada teks hadist فهي تحيتك وتحية ذريتك (dan itu adalah ucapan salam bagimu dan keturunanmu)

- Kewajiban untuk menjawab salam, dengan alasan bahwa salam bermakna selamat. Dan ketika seseorang tidak menjawab salam saudaranya, akan muncul keburukan-keburukan yang mungkin saja muncul (red: suu-dzon misalnya)

-Dianjurkan untuk menjawab menggunakan lafadz yang lengkap.

Disebutkan dalam suatu riwayat hadist, bahwa menjawab salam dengan lafadz yang lengkap akan mendapatkan ganjaran 30 kebaikan.


4. Salam adalah syariat yang sudah ada sejak nabi Adam a.s diciptakan


5. Nabi Adam a.s tidak mengalami masa pertumbuhan layaknya manusia pada umumnya


Dalam Fath Al-Bari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa riwayat hadist ini menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa dhomir dalam lafadz

خلق الله عز وجل آدم على صورته .

adalah kembali kepada nabi Adam a.s. Maka dapat dipahami bahwa Allah SWT menciptakan nabi Adam a.s langsung dalam bentuk manusia dewasa, tanpa mengalami fase pertumbuhan seperti: bayi, balita, anak-anak, remaja, dan seterusnya. Inipun menjadi bantahan kepada kelompok mujassimah yang mengatakan bahwa dhomir pada kata shuratihi kembali pada Allah, yakni Adam serupa dengan Allah

6. Perawakan Penghuni surga akan seperti nabi Adam a.s


Imam Nawawi dalam(( Syarh Sahih Muslim)) 178:17, mengatakan bahwa perawakan nabi Adam a.s dari awal penciptaan, hidup di bumi, meninggal, bahkan sampai nanti di surga tetap sama, dengan tinggi 60 hasta atau setara 27,43 meter dan tidak berubah.

Kemudian Ibnu Hajar mengatakan dalam ((Fathul Bari)) 367:6 bahwa lafadz

كل من يدخل الجنة على صورة آدم ,

yaitu, perawakan penghuni surga akan seperti nabi Adam a.s baik dalam kesempurnaan, keindahan, dan tingginya.

Tidak ditemukan kekurangan-kekurangan yang ada di dunia dahulu, seperti pincang, buta,dan sebagainya.

Syekh Abdul Fattah mengatakan bahwa, ada banyak dalil yang menjelaskan tentang pembahasan ini, salah satu nya terdapat dalam ((Musnad Imam Ahmad)) 290:2,


Dari Abu Hurairah r.a, dari Rasulullah Saw bersabda, “Ketika penduduk surga masuk surga, mereka dalam kondisi jurdan (tidak berbulu), murdan ( tidak berjenggot dan tidak berkumis), berkulit putih, ji'ad (berbadan tegap atau memiliki rambut antara lurus dan keriting), bercelak, memiliki umur 33 tahun, dan memiliki tinggi 60 hasta (±27,43 meter) dan lebar 7 hasta (±3,2 meter)


Dan sebagai penutup, pembimbing RTM, Al-Ustadz Azwar mengingatkan kita semua untuk dapat mengambil berbagai faidah yang ada pada sebuah hadis. Sekalipun belum melihat syarh nya. Dengan nalar seperti ini kita akan terbiasa untuk mengambil faidah dalam setiap hadis Rasulullah. Ujar beliau.

Wallahu a'lam bis-showab


Ayu Shafira Indiratama

(Santriwati Rumah Tahfidz Mesir)

270 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.