Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Majlis ke-12 Kitab Shofahaat: Penutup Bab Pertama, Tamparan Keras untuk Pelajar Masa Kini




Sebelum menutup bab pertamanya, yakni bab tentang pengembaraan dalam menuntut ilmu, penulis, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah menyisipkan beberapa kalimat sebagai intisari dari apa yang ia kemukakan di awal sekaligus sebagai nasehat kepada para pelajar, khususnya pelajar saat ini.


Dari sejumlah cerita yang telah dipaparkan, kata penulis, ini menunjukan bahwasanya pengembaraan itu sudah seperti ‘tujuan utama' (maqshidan asaasiyyan) yang telah mendarah daging di dalam jasad para ulama. Atau bisa dikatakan hal tersebut sudah menjadi hal yang lazim bagi mereka dalam menuntut ilmu. Sekalipun ada di antara mereka yang tidak melaksanakanya, namun itu bukan karena kehendaknya, namun karena beberapa halangan yang melanda, seperti minimnya ekonomi, tidak diizinkan oleh keluarga, dsb.


Lagi lagi penulis mengajak kita semua untuk sama-sama merenungkan kisah-kisah hebat para ulama dalam menghabiskan waktunya untuk ilmu. Ada yang menghabiskan umurnya selama 15, 25, 40 atau bahkan 45 tahun untuk mengembara dalam menuntut ilmu sebagaimana Ibnu Mandah yang dari umur 20-65 tahun ia habiskan untuk menuntut ilmu dan setelah itu baru menikah. Dan kita pasti tau 45 tahun itu bukanlah waktu yang sebentar. Dan rihlah ini bukanlah omong kosong atau untuk bersenang-senang, namun dalam rangka menuntut ilmu. Karena itulah hampir semua dari mereka menjadi raksasa-raksasa hebat dalam setiap bidang keilmuan yang diakui oleh negaranya tatkala ia pulang atau bahkan dunia.

Dan seandainya ingin merenungkan lebih jeli lagi, kita akan membayangkan bagaimana beratnya keadaan mereka saat itu. Seperti ekonomi yang tak memadai, perbekalan yang sedikit, sanak keluarga yang harus ditinggal, dll nya. Khususnya alat transportasi yang belum memadai seperti saat ini.


Sebagaimana yang sudah diceritakan sebelumnya, kita pasti sulit membayangkan sosok seperti Imam Al-Sam’ani yang berpergian lebih dari seratus kota dengan hanya berjalan kaki. Imam Baqiy bin Makhlad yang menempuh perjalanan laut dari Andalus ke Baghdad. Dan inilah mengapa tak sedikit dari mereka yang berguguran dalam perjalanan menuntut ilmu atau terpaksa kehilangan anggota badan mereka di tengah kerasnya cuaca saat berpergian, seperti Imam Ar-Rawwasi dan al-Zamakhsyari.


Dan sekarang, coba bandingkan ulama-ulama yang keluar dari kerasnya pengembaraan dalam menuntut ilmu bertahun-tahun dengan pelajar di universitas saat ini yang lulus hanya dalam empat tahun!,” pungkas penulis.


Bahkan, menurutnya, kebanyakan dari mereka belajar hanya dengan membaca buku saja (diraasatan shahafiyyahtan fardiyyatan); mereka tidak bertatap muka apalagi mendengarkan, enggan berdiskusi, akhlaknya buruk dan tidak dapat dijadikan teladan, tidak pernah mengevaluasi kesalahan, dikelas hanya mengiyakan perkataan guru tanpa mengkritisi dengan mengajukan pertanyaan ataupun sanggahan. Dan yang lebih parah, mereka hanya menebak-nebak pembahasan dari diktat kuliahnya yang sekiranya akan keluar di ujian dan kemudian mereka rangkum. Atau bahkan ia berusaha sekeras mungkin meminta pada gurunya untuk meniadakan pembahasan yang menurutnya tidak penting. Hingga akhirnya mereka pun senang dan bergembira dengan sedikitnya pembahasan yang diujikan.


Setelah lulus mereka pongah dan sombong dengan gelar akademiknya padahal isinya kosong. Kemudian menyebarluaskan berbagai pemahaman yang tidak semestinya, menjelek-jelekkan pemikiran-pemikiran ulama dengan gagasan mereka yang bahkan belum matang untuk dijadikan gagasan.


Sungguh ini adalah musibah, bahkan musibah terbesar !” tegas penulis


Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk terus membenahi instansi pendidikan kita dengan mampu mencetak pelajar sebagaimana ulama dulu yang tercetak dari kerasnya perjuangan menuntut ilmu. Dan kita pun mampu meneladani perjuangan para ulama yang menghabiskan umurnya untuk ilmu.


wallahu a’lam bis-showab


Bana Fatahillah

118 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.