Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Majlis ke-11 Kitab Sofahaat: Ulama dengan Tujuh Ribu Guru itu Bernama Abu Sa’id Al-Sam’ani



Namanya adalah Abdul Karim bin Muhammad Al-Marwazi Al-Tamimiy Al-Syafi’i. Lahir dikota Marwa, salah satu kota di daerah Khurasan, tahun 506 H dan wafat tahun 562 H saat umurnya 56 tahun. Semua anggota keluarganya merupakan ulama dan pakar dalam berbagai disiplin ilmu, diantaranya ; ada ahli hadis, fikih, sastrawan dll. Sehingga membuat Al-Sam’ani mendapat cekokan ilmu sejak kecilnya.


Terlahir dari keluarga ulama membuat Al-Sam’ani mendapat gemblengan khusus. Sejak umur 4 tahun ia sudah diajak oleh ayahnya untuk mendengar hadis dari ulama di kota Marwa. Dan ini merupakan pelajaran bagi kita untuk mengajak anak kita kelak ke majlis para ulama. Setelah ditinggal wafat oleh ayahnya diumur 5 tahun Al-Sam’ani terus mendapat didikan dari para ulama di Marwa, salah satunya Ibrahim Al-Marudzi, dan juga oleh paman dan keluarganya.


Syekh Abdul Fattah memberikan sebuah peringatan pada biografinya. Beliau berkata, kalian seperti akan menyimak sebuah dongeng jika mendengar kisahnya.

Bukan apa-apa, memang karena kisahnya tidak terfikirkan dalam benak orang biasa. 20 tahun mengembara untuk ilmu. Tidak kenal lelah dan penat. Tidak pernah puas dengan minuman yang diteguknya, alias selalu haus akan ilmu dan faidah baru. Dan bahkan ia tidak bahagia sebelum langkahnya untuk ilmu semakin jauh, gurunya semakin banyak dan faidah-faidah yang didapat semakin penuh. Sampai ia pun menjadi seorang ulama yang tiada permisalan pada masanya.


Yang lebih mencengangkan dari kisahnya adalah: jumlah guru yang didatangi dalam perjalanananya menuntut ilmu sebanyak 7 ribu guru –sekali lagi 7 ribu guru.

Jumlah ini bahkan dinukil oleh Syekh Abdul Fattah di kitabnya dari 3 riwayat yang berbeda sebagai bukti yang sangat kuat. Dan ini adalah jumlah yang tidak terpikirkan oleh seseorang pada umumnya. Namun faktanya memang seperti itu . Bahkan, kata Syekh Abdul Fattah, jika ingin disebutkan satu persatu nama gurunya maka akan menjadi satu buku sendiri yang berjilid-jilid.


Jika demikian, maka sudah pasti perjalanannya dalam menuntut ilmu tidak hanya di dua atau tiga kota saja. Bahkan melebihi 100 kota. Syekh Abdul Fattah pun menyebutkan kota-kota yang pernah dikunjungi oleh Al-Sam’ani dalam biografinya. Jika Kalian masih meragukan pengembaraannya ke kota-kota tersebut, maka kitab Mu’jamul Buldan milik Al-Sam’ani adalah bukti yang kuat yang mereka setiap jejaknya dalam menuntut ilmu di tiap kota yang dilewatinya.


Dan ini menunjukkan bagaimana hausnya Al-Sam’ani dalam meneguk tetesan ilmu sejak masa mudanya. Dikisahkan bahwa pada saat umurnya 20 tahun Ia hendak pergi ke Naisabur untuk mendengar kitab Shohih Muslim dari seorang ulama yang umurnya sangat panjang yaitu Muhammad bin Fadl Al-Furawawi. Keinginannya untuk bertemu dengan beliau semakin menggebu-gebu ketika mengetahui tingginya sanad beliau kepada kepada Imam Muslim. Namun pamannya melarang kepergiannya sehingga membuat ia begitu kecewa. Dua tahun setelah itu ia baru diizinkan dan ia sangat senang.


Dipenghujung kisahnya, Syekh Abdul Fattah mengajak para pembaca untuk sama-sama merenungkan bagaimana perjalanan ke berbagai kota itu ditempuh oleh al-Sam’ani. Bukan dengan mobil, kereta, atau kendaraan lain seperti saat ini, melainkan dengan kedua kakinya. Kerinduan apalagi selain akan ilmu dalam kisah ini. mari bersama sama kita teladani kisahnya!


Bana Fatahillah

45 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.