Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Majlis ke-10 Kitab Shafaahat: Sudahkah Pengorbanan Kita Seperti Abul Fityan Al-Rawwasi

Namanya adalah Umar bin Abdul Karim al-Dihistani al-Rawwasi. Lahir pada tahun 428 H dan wafat pada 503 H.

Dijuluki al-Rawwasi (yang berarti kepala) karena ayahnya, yakni Abdul Karim, adalah penjual kepala-kepala hewan. Sejak kecil Al-Rawwasi atau yang akrab disapa Abul Fityan sudah dikirm oleh ayahnya ke seorang ulama ahli hadis di negaranya. Inilah yang nantinya membuat Abul Fityan menjadi sosok ulama hadis terkemuka dan menjadi guru bagi sejumlah tokoh ternama, seperti Abu Hamid Al-Ghazali. Sebagaimana yang diriwayatkan Al-Dzahabi dalam Tadzkirat al-Huffadz, kisah ini bermula ketika Abu Mas’ud Al-Bajali, sorang ulama hadis di negaranya, mengunjungi warung ayah Al-Rawwasi dan membeli salah satu kepala disana. Dengan penuh sopan santun ayah umar pun memuliakan ulama itu. Bahkan demi menjaga wibawa seorang ulama, Abdul Karim menyuruhnya masuk ke dalam masjid agak tidak duduk di emperan jalan sehingga mencoreng muru’ah nya. Setelah menunggu sejenak, atas perintah ayahnya, masuklah Arrawasi dengan kepala bakar lezat, roti, cuka dan sayuran segara yang diantar pada ulama tersebut. Merasa berhutang banyak pada sang ayah, ulama tersebut pun akhirnya meminta izin pada Abdul Karim untuk mengajarkan hadis Rasulullah kepada anaknya, Al-Rawwasi. Dengan senang hati ayahnya mengizinkan. Mulailah Arrawasi mendapat gemblengan dalam ilmu hadis. Disana ia tidak hanya diajar oleh Abu Mas'ud Al-Bajali, namun ia turut dibawa ke sejumlah ulama di Dihistan untuk diperdengarkan hadis. Dan setelah sampai di usia yang matang Al-Rawwasi pun melanjutkan pengembaraannya dalam hadis hingga ia benar-benar menguasai ilmu hadis pada masanya. Potret ini bisa kita lihat dari kesaksian para ulama seperti Abu Ja’far al-Hamadzani yang pernah mengatakan: “saya tidak pernah melihat di Negara ini, bahkan dunia ini, orang yang lebih menguasai hadis dari Abul Fityan. Dia adalah ‘buku berjalan’. Ia mengelilingi dunia demi mencari dan mendengarkan hadis Rasulullah Saw. Saya pernah bertemunya di Makkah. Dan disana juga saya menyaksikan ulama-ulama makkah memuji dan menyanjungnya. Sampai akhirnya saya bertemunya di Jurjan dan kemudian menjadi bagian dari kami” Dan diantara kisah perjalannya menuntut ilmu inilah pengorbanan yang bisa dikatakan beda dari yang lain. Dan ini juga yang difokuskan oleh Syekh Abdul Fattah dalam kisah Abul Fityan Arrawwasi. Yakni ketika ia kehilangan jarinya dalam perjalanan menuntut ilmu karena cuaca dingin yang mematikan. Jika mendengar hal ini tanpa merenungkannya tampak seperti biasa saja. Ini lah mengapa ketika menanggapi peristiwa ini, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah memberikan komentar seperti ini: “Baca kisah ini dan renungkanlah! Lihatlah bagaimana ia bersabar, bertahan dan berkorban (demi ilmu). Seakan ilmu itu lebih dari apa yang hilang darinya. Hingga nantinya Allah akan mengganti apa yang hilang darinya di Surga bersama para Nabi, Ulama, orang-orang soleh” Dan semua pengorbana yang telah dikerahkan dapat kita lihat tatkala ia menjadi raksasa ilmu hadis pada masanya. Bahkan ia menjadi rujukan dan guru ulama pada masanya. Ulama tersohor sekelas Khatib al-Baghdadi, Abu Hamid Al-Ghazali, Umar Al-Jurjani dan sejumlah ulama ahli fikih ataupun bidang lainnya pun turut mengambil dan belajar hadis darinya. Dan inilah hakikat dari sebuah pengorbanan. Abdul Ghafir bin Ismail pernah berkata: “Umar Al-Rawwasi terkenal dengan orang yang paling menguasai sanad hadis, ia menulis hadis, mengklasifikasikannya bab per bab, kemudian mengumpulkannya menjadi satu buku. Ia pun sangat cepat dalam menulis hadis. (selain itu) ia pun berjalan pada tradisi salaf yang sedikit hartanya (muqillan) banyak anaknya (mu’iilan)… ia menempuh perjalanan dari Naisabur ke Tus. Disanapun ia dimuliakan oleh Imam Al-Ghazali dan menginap di rumahnya sekaligus membacakan pada Al-ghazali Sohih Bukhari…” Sampai akhirnya ia menemui ajalnya pada tahun 503 H di kota Sarkhas di tengah perjalanan Tus ke Marwa. Ia wafat dalam perjalanan hendak bertemu dengan ulama bernama Abu Bakar Al-Sam’ani di Marwa yang memintanya untuk mengajar. Sungguh akhir yang indah bagi seorang ulama yang hidupnya ia korbankan untuk ilmu. Sekarang saatnya kita bertanya pada diri kita, “apa yang sudah kita korbankan untuk ilmu”. apakah sudah sebanding dengan Abul Fityan yang kehilangan jarinya dalam perjalanan menuntut ilmu atau masih sangat jauh dari itu? sudah berapa tetes keringat yang membasahi diri kita dalam perjalanan menuntut ilmu? apakah sejauh Arrawwasi yang menempuh perjalanannya dengan berjalan kaki ke berbagai kota? mari kita jawab pada diri kita sendiri. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi pengingat bagi kita semua. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Bana Fatahillah

31 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.