Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Majelis ke-5 Kitab Sofahaat: Meneladani Sosok Abu Dzar Al-Ghifari



Kembali melanjutkan majelis kitab Sofahaat min Sobril Ulama milik Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah pada malam Jumat (5/3). Masih pada bab pertama, kali ini kita dikenalkan dengan sosok sahabat Nabi yang sangat zuhud dan wara, Abu Dzar Al-Ghifari.

Jundub bin Junadah, atau yang dikenal dengan Abu Dzar merupakan sahabat yang masuk Islam pada periode awal. Ia berasal dari Ghifar, sebuah suku di timur Makkah yang mana penduduknya masyhur sebagai ‘perampok’ atau pembegal yang suka melanggar batas-batas bulan haram. Disanalah Abu Dzar dan keluarganya tinggal.

Kisah ini bermula saat ia mendengar kabar diutusnya seorang Nabi di Makkah. Abu Dzar pun menyuruh saudaranya, Unais, untuk pergi ke Makkah mencari informasi terkait hal tersebut. Pergilah Unais ke Makkah dan mencari tau seputar Nabi Muhammad Saw dan apa yang disampaikannya. Setelah kembali ia mengabarkan pada Abu Dzar bahwasanya orang yang dimaksud, yakni Muhammad, justru memerintahkan kebaikan budi perkerti pada umatnya.

Pergilah Abu Dzar ke Makkah dengan hanya membawa sebuah kantung air minum yang terbuat dari kulit sebagai bekal. Kepergian ini dengan niat mengetahui siapa dan apa yang dibawa sang utusan tersebut. Sesampainya di Makkah ia pun mencari orang yang terlihat berpenampilan ‘biasa’, seperti orang di pinggiran jalan untuk menanyakan perihal Rasulullah, sebab ia akan merasa terancam jika yang ditanya adalah orang yang mempunyai status sosial di Makkah.

Namun nasib berkata lain. Ia justru dituduh sebagai pengikut Muhammad oleh orang tersebut sehingga massa datang menghantamnya sampai ia terjatuh pingsan. Bahkan dalam riwayatnya, saat terbangun, badan Abu Dzar memerah karena berlumuran dengan darah sebagaimana nushub, yakni batu yang digunakan untuk menyembelih hewan pada masa Jahiliyyah.

Ia pun pergi ke sumur zamzam untuk membersihkan darah tersebut. Sudah lebih dari 30 hari ia belum bertemu rasulullah Saw di Makkah, dan dalam 30 hari itu juga ia tidak mengonsumsi apapun kecuali air zamzam.

Sampai akhirnya pada suatu malam, ia pun bertemu dengan Rasulullah Saw bersama Abu Bakar sedang beribadah di Ka’bah. Setelah selesai dari shalatnya, Abu Dzar pun menhampiri Rasul dan mengucapkan salam kepadanya. “Wa’alaika warahmatullah,” jawab Rasulullah. Meski agak sedikit kaget melihat orang dari suku Ghifar, namun Rasulullah berusaha untuk mengenalnya lebih dekat. Baginda Nabi selanjutnya bertanya:

“Sejak kapan kamu disini?”

“Sudah hampir 30 hari” jawab Abu Dzar

“Lantas, siapa yang memberimu makanan?”

“Aku tidak memiliki makanan apapun kecuali air zamzam, sampai aku pun semakin gemuk dan perutku berlipat-lipat, namun demikian aku tidak merasakan lapar sedikit pun”

Rasulullah berkata: “Ini karena Air zamzam adalah makanan dari segala makanan dan kesembuhan dari setiap penyakit” (Innaha to’aamu tu’min wa syifaa’u suqmin)

Faidah Dari Kisah Abu Dzar Al-Ghifari

Jika ditanya: apa yang membuat penulis menukil kisah ini dalam bab ini, yakni bab tentang perjuangan menuntut ilmu?

Maka jawabannya sungguh jelas. Abu Dzar al-Ghifari mengajarkan kita tentang pentingnya kesungguhan dan susah payah dalam mendapatkan ilmu. Ia rela berjalan jauh untuk mempelajari dan mengenal Islam lewat Baginda Nabi Saw. Perbekalannya tidak seberapa, hanya sebotol air minum. Bahkan selama 30 hari ia tidak mengonsumsi apapun kecuali zamzam. Lika-liku menuntut ilmunya pun turut ditambah dengan perlawanan dari penduduk Makkah. Namun itu tidak membuat ia gentar untuk bisa terus menemui Rasul untuk mengenal Islam.

Dan inilah jiwa penuntut ilmu yang harus dimiliki pelajar sebagaimana yang dicantumkan dalam kisah kali ini. Maka sudah semestinya kita mengikuti dan meneladani kisah Abu Dzar yang mana merupakan sahabat Nabi Saw yang sudah semestinya diikuti dan diteladani. Ini sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud yang pernah bertutur:

“barang siapa di antara kalian yang hendak mencari teladan, maka teladanilah para sahabat Nabi Saw, ini karena mereka semua adalah orang yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit (amalan yang dibuat-buat), paling sempurna petunjuknya, dan paling perfek keadaannya dalam umat ini. Merekalah sekumpulan kaum yang langsung dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi, menegakkan agama ini. Karenanya, kenalillah dan hormatilah mereka, cari tau dan ikutilah riwayatnya, serta berpegang teguhlah pada akhlak dan perjalanan mereka…”

Dan dari hadis ini juga kita mengetahui bahwa air zamzam mempunyai keutamaan yang diantaranya dapat membuat kenyang sebagaimana makanan dan mampu menjadi obat bagi penyakit apapun, tergantung niat dan keyakinan yang meminumnya (zamzam limaa syuriba lahu).

Wallahu a’lam


Bana Fatahillah

(Santri Rumah Tahfidz Mesir)

225 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.