Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Majelis ke-15 Kajian Kitab Shofahaat : Tentang Kesabaran Dalam Menghadapi Kemiskinan dan Kesempitan



Memasuki bab ketiga dari pembahasan kitab Shofahaat Min Shobril Ulamaa’, bab ini menceritakan tentang kesabaran orang-orang besar terdahulu dalam menghadapi kemiskinan serta kesempitan hidup. Penulis menjelaskan bahwa bab ketiga ini merupakan bab yang paling luas pembahasannya dalam kitab Shofahaat. Kefakiran, menurutnya adalah syiar para ulama sepanjang masa, ia adalah keadaan yang lebih disukai para ulama ketika menuntut ilmu maupun ketika mengajarkannya.


Hal ini dikuatkan oleh perkataan Ibnu Khaldun; seorang filsuf, sejarawan, qadhi, dan ahli sosiologi, dalam kitabnya yang berjudul Muqaddimah.

Dalam salah satu babnya Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa orang-orang yang selalu disibukkan dengan urusan agama (seperti para qadhi, ahli fatwa, pengajar, imam, dan yang lainnya) pada umumnya tidak mempermasalahkan sedikitnya harta dan kekayaan yang mereka miliki. Bagi mereka, perkara ini tidak terlalu penting. Mereka lebih disibukkan dengan dakwah kepada para pembesar agar mau menerima seruan mereka, juga dengan fatwa-fatwa dan keputusan-keputusan dalam perselisihan manusia.


Mereka juga merupakan orang-orang yang mulia, tidak tunduk kepada para petinggi kaumnya sampai-sampai harus meminta diberi kekayaan, dan tidak membuang-buang waktu untuk hal tersebut. Senada dengan hal ini, Imam Syafi’i berkata sebagaimana yang dituliskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya, Al Majmu' dalam bab Adab Seorang Penuntut Ilmu. “Bukanlah orang yang mencari ilmu dengan kekuasaan dan kedudukan tinggi yang beruntung, namun yang mencarinya dengan kerendahan diri, kehidupan yang sempit, dan yang berkhidmat kepada para ulama lah yang beruntung.”


Sebuah contoh yang menakjubkan datang dari Sulaiman bin Khalaf (w. 474 H), seorang ahli hadits yang faqih dari Cordoba, Andalusia. Dikisahkan dalam kitab Tartib Al Madaarik karya al Qadhi 'Iyadh, bahwa Sulaiman bin Khalaf sebenarnya berasal dari sebuah daerah bernama Bathalyaus, kemudian berpindah ke Andalus. Ketika ia tiba pertama kalinya di Andalus, ia tidak memiliki sepeserpun harta, sampai-sampai ia harus mencari bekal untuk meneruskan perjalanannya menggunakan syairnya. Bahkan ketika tinggal beberapa saat di Baghdad, Sulaiman bekerja untuk mencari nafkah dengan menjadi penjaga rumah.


Kemudian ia tiba di Andalus dalam kondisi kekurangan, yang mengharuskannya untuk bekerja sebagai penempa lempeng emas yang digunakan untuk perang dan dijadikan benang untuk kain tenunan dan jubah. Bahkan dikisahkan bahwa suatu hari, ketika ia menemui para sahabatnya untuk belajar, di tangannya masih terdapat bekas palu dan kerasnya pekerjaan. Ia terus bersabar dalam keadaan ini, hingga kemudian keluasan ilmunya tersebar dan hidupnya menjadi semakin lapang, sampai akhirnya ia wafat dalam keadaan kaya dan derajat yang tinggi.


Tidak hanya Sulaiman, contoh lain dari ulama yang menuntut ilmu dalam keadaan fakir juga datang dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Keadaannya yang fakir membuatnya mampu mengikuti pelajaran-pelajaran dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dengan fokus dan tenang karena sedikitnya tanggung jawab yang harus ia pikirkan. Tentu saja hal ini bagus untuk dirinya sendiri dan umat yang sampai sekarang masih terus merasakan manfaat dari keluasan ilmunya.


Begitulah para ulama terdahulu lebih mengutamakan keadaan fakir dalam menuntut ilmu. Mereka memilih bersabar dalam kefakiran karena kesabaran adalah syarat untuk mendapatkan segala sesuatu yang berharga, seperti yang dilakukan Imam Syafi’i, Ibnu Hisyam An-Nahwi (penulis kitab Qatrunnada, Al-Mughni, dan banyak kitab lain), Abul Hasan Al Jurjani, dan yang lainnya. Para ulama menganggap bahwa kefakiran adalah keadaan yang bisa membuat mereka melihat yang manakah teman mereka sebenarnya, juga menyingkap musuh yang sebenarnya di hadapan mereka. Dan walaupun mereka mampu melihat perbedaan muamalah manusia terhadap mereka ketika mereka memiliki harta dan ketika tidak memiliki apa-apa, para ulama lebih memilih melazimi kefakiran dan bersabar terhadap buruknya sikap beberapa orang, karena itu lebih menempa jiwa mereka dan lebih mendatangkan manfaat bagi ilmu mereka.


Semoga kita bisa meneladani jalan yang ditempuh para ulama kita dan mampu bersabar dalam setiap keadaan; lapang maupun sempit, dalam menuntut ilmu. Wallahu a'laam bish-shawab.


Via Nur Karima


11 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.