Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Majelis ke-13 Kitab Shafahaat: Bab kedua, Tentang Mereka yang Meninggalkan tiap Kelezatan Demi Ilmu.



Kajian kitab Shafahaat min Shobril Ulama sampai pada bab kedua yang mengangkat tema “Mereka yang meninggalkan tidur, istirahat, santai-santai dan berbagai kelezatan demi ilmu."


Cerita-cerita yang akan dicantumkan pada bab ini dirangkum oleh penulis dalam sebuah kalimat yang diletakkan diawal bab, yaitu:

“Ilmu itu tidak akan memberikanmu sebagiannya sebelum Kau memberikan seluruhmu padanya” (al-Ilmu la ya’tiika ba’dhahu illa idza a’thaitahu kullaka).


Dalam arti semua kisah yang akan dinukilnya pada bab ini akan menjabarkan dan memperluas kalimat tersebut. Jika pada bab pertama penulis memfokuskan pembahasannya pada pengembaraan dalam menuntut ilmu, maka di bab kedua ini ia coba mengajak pembaca untuk merenungi pengorbanan ulama dalam ilmu, yakni saat meninggalkan berbagai kenikmatan dalam hidupnya; ada yang tidak tidur semalaman, rela tidur di jalanan demi bertemu gurunya, tidak makan dsb. Maka wajar saja jika diantara mereka ada yang mengatakan: “ilmu itu tidak akan didapatkan kecuali mereka yang menutup tokonya, menghancurkan tanamannya, menjauhi saudaranya dan tidak menyaksikan kematian kerabat dan keluarganya”. artinya ilmu tidak bisa diraih dengan santai-santai.


Misalnya saja kisah sahabat Agung Abdullah bin Abbas (w. 67 H) yang dicantumkan penulis diawal bab kedua ini. Kita semua pasti tau Ibnu Abbas adalah sepupu Nabi yang berkat doa beliau ia menjadi orang yang amat faham seluk-beluk tafsir al- Quran. Namun hebatnya keadaan itu tidak menutup Ibnu Abbas untuk terus menuntut ilmu pada sahabat lain yang lebih senior darinya, dengan harapan dapat mendengar hal-hal yang belum pernah ia dengar dari Nabi.


Semangat ini sudah ada pada diri Ibnu Abbas sejak masih muda. Dalam sebuah riwayat, pada saat umurnya 13 tahun, ia pernah mengajak kawannya untuk berburu dan belajar hadis dari sahabat-sahabat senior. Namun temannya justru meremehkannya dan berkata bahwa ajakannya itu hanyalah kesia-siaan. Sebab di sana masih banyak sahabat-sahabat tua yang dijadikan rujukan dalam setiap permasalahan, sehingga orang-orang pada saat itu tidak akan membutuhkan mereka! Namun itu tidak membuat nyali Ibnu Abbas menciut untuk terus menuntut ilmu.


Hingga pada suatu hari ia berkunjung pada salah satu sahabat untuk mendengar hadis. Saat sampai di rumahnya ia pun mendapatkan bahwa sahabat tersebut sedang tidur siang. Karena tidak ingin menganggu dan ingin memuliakannya, Ibnu Abbas pun membentangkan sorbannya di depan pintu dan berbaring sembari menunggunya keluar. Setelah cukup lama menuggu dengan debu yang bertebaran dan mengotori dimukanya, akhirnya sahabat itu pun keluar dan terkaget-kaget menemukan sepupu Nabi yang amat mulia tidur tergeletak di depan pintu rumahnya.


Ia sontak kaget dan merasa bersalah kenapa bukan ia yang datang kepada Ibnu Abbas. Saat ditanya mengapa melakukan hal ini, Ibnu Abbas hanya menjawab : " Seharusnya saya yang datang ke rumah engkau wahai sahabat Nabi, sebab telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau mendengar salah satu hadis Nabi yang belum kudengar ,karenanya pun hendak mendengarkannya darimu."


Begitulah semangat Ibnu Abbas dalam menuntut ilmu. Beliau tidak pernah bosan dan jenuh dalam ilmu. Bahkan dalam salah satu riwayat beliau pernah ditanya “Berapa lama engkau belajar, wahai Ibnu Abbas?” beliau menjawab, “kenikmatanku ada pada saat Aku bersemangat dalam ilmu, adapun hiburanku ada pada saat aku pusing memikirkan ilmu”


Ini artinya seakan semua waktunya tidak ada yang terbuang selain untuk ilmu. Jika sahabat Nabi yang sudah didoakan Nabi saja seperti ini semangatnya, lantas bagaimana kita?


Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang dicantumkan oleh penulis terkait mereka yang berkorban demi ilmu. Penulis juga banyak mengisahkan ulama yang tidak tidur malam untuk belajar. Hebatnya, saking larutnya mereka dalam ilmu,mereka tidak sadar kalau malam mereka hampir habis dan adzan subuh

tiba.


Kalian pasti tertawa sambil terheran-heran dengan Abdullah Ibnu Mubarok (w. 181 H) yang saat pada sautu malam, setelah solat Isya, ia dihentikan oleh seseorang yang bertanya padanya tentang sebuah permasalahan. Ibnu Mubarok pun terdiam sambil mudzakarah bersama penanya tersebut, dan saking nikmatnya membahas itu, mereka tidak sadar kalau waktu subuh telah tiba.


Semoga kita bisa meneladani kisah-kisah mereka yang berkorban demi ilmu.


Bana Fatahillah

101 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.