Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Faidah Ngaji Syamail; Sifat Shalat Duha Nabi Muhammad Saw



Setelah membahas seputar Shalat Malam Baginda Nabi, minggu ini, Sabtu (9/12), pengajian rutin mingguan Syamail Muhammadiyyah RTM masuk pada pembahasan seputar sifat Shalat Duha Rasulullah Saw.


Secara ringkas ada 3 poin pembahasan yang ingin dipaparkan dalam resensi kali ini. Pertama, tentang riwayat Nabi melaksanakan Shalat Duha. Kedua, tentang jumlah rakaat Shaalt Duha. Ketiga tentang keutamaan dari Shalat Duha itu sendiri.


Pembahasan pertama, yakni tentang riwayat Nabi melaksanakan Shalat Duha. Hal ini telah dibuktikan oleh jawaban Sayidah Aisyah yang mengiyakan pertanyaan tentang apakah Nabi Shalat Duha, dan bahkan sebanyak 19 pembesar sahabat telah meriwayatkan bahwa Nabi melaksanakannya, yang mana menurut Ibnu Jarir ini sudah lebih dari batas kabar mutawatir.


Adapun riwayat sebagian sahabat yang mengatakan bahwa shalat Duha belum dilakukan hingga terbunuhnya Utsman bin Affan, atau baru dilakukan semasa Ibnu Umar Ra, maka ulama mengatakan bahwa ada kemungkinan kabar tentang Nabi melakukan shalat Duha tersebut belum sampai ke mereka semua, atau maksudnya Nabi tidak melakukannnya setiap hari.


Kedua, terkait jumlah rakaatnya, pada bab ini penulis meriwayatkan sejumlah hadis yang menyebutkan tentang jumlah rakaat shalat Duha Nabi Saw. Di antaranya riwayat dari Sayyidah Aisyah Ra yang mengatakan jumlah rakaat shalat Duha Nabi 4 rakaat dan terkadang lebih; dari Anas bin Malik Ra sebanyak 6 rakaat, dari Ummu Hani binti Abi Thalib Ra sebanyak 8 rakaat.


Dari sejumlah riwayat di atas, Imam Ibrahim Al-Bajuri menjelaskan bahwa dalam banyak keadaan Nabi lebih sering shalat 4 rakaat. Ini sebagaimana riwayat Sayidah AIsyah Ra yang ketika ditanya tentang apakah Nabi melaksanakan Shalat Duha, ia menjawab: “iya.. (hal tersebut) sebanyak 4 rakaat dan bahkan lebih dari itu jika Allah berkehendak” (wa yaziidu masyaAllah ‘azza wa jalla). Namun hal itu tidak menafikan juga kalau beliau shalat 6, 8 atau bahkan 12 rakaat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan Ummu Hani. Sebab sebagaimana yang kita tahu setiap sahabat meriwayatkan apa yang dilihatnya di setiap kondisi dan waktu yang berbeda-beda.


Namun yang menjadi catatan penting, menurut imam al-Bajuri, meskipun Nabi terkadang shalat 2 , 4 atau bahkan sampai 12 rakaat, namun ulama berpendapat bahwa 8 rakaatlah yang dinilai lebih afdal. Dan hal ini tidak menafikan kaidah yang mengatakan “setiap yang lebih banyak dan lebih sulit itulah yang lebih afdhal” (kullu ma katsura wa syaqqa kaana afdhal), sebab kaidah ini hanya bersifat ‘biasanya’ atau ‘terkadang’ (gholibiy). Dan ini pun dikuatkan oleh perkataan sebagian ulama yang berkata bahwa amalan yang lebih sedikit bisa melampaui yang banyak jika ia menyimpan sejumlah kemaslahatan.


Namun yang lebih penting dari ini, sebagaimana yang disampaikan oleh al-Ustadz Azwar Anas, ialah bagaimana kita menjaga shalat Duha setiap harinya. Kita jangan berlasan untuk tidak shalat bahwa Nabi pun dulu tidak melakukannya setiap hari, sebab hal itu jelas, beliau hendak menjelaskan bahwa shalat Duha bukan wajib. Dan itu Nabi, sementara Anda siapa? Adapun saat ini semua orang sudah tahu mana yang wajib mana yang sunah, jadi sudah seharusnya kita menjaga dan mengamakan shalat Duha ini. Tegas mahasiswa Pascasarjana Fakultas Al-Quran, Thanta tersebut.


Ia menambahkan bahwa disana ada riwayat berbunyi: barang siapa yang menjaga shalat Duha, maka ia akan diampuni dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. Tapi ingat, syaratnya apa? Syaratnya Ia senantiasa menjaga shalat duhanya (haafaza ala shalat al-Duha). Dan terkait dosa yang diampuni menurut banyak ulama adalah dosa kecil sebab dosa besar tidak bisa diampuni kecuali dengan hudud, seperti zina misalnya.

“namun itu tidak menafikan bahwa dengan keagungan dan kemurahan-Nya Allah mampu mengampuni semua dosa-dosa yang ada sekalipun hamba-Nya belum bertaubat. Inilah mengapa dalam surat al-Ghafir diakatan “maha pengampun dosa” sebelum “maha penerima taubat”, sebab, sebagaimana menurut Dr. Muhamad Abu Musa, Allah Swt bisa dan bahkan sangat bisa mengampuni semua dosa sekalipun manusia itu belum bertaubat,” pungkas pemuda asal Lombok tersebut.


Dan terkait Nabi tidak melakukan shalat Duha ini secara kontinuitas ialah riwayat sahabat Abu Said Al-Khudri yang mengatakan bahwasanya Nabi Muhammad Saw melakukan shalat Duha sampai-sampai kita berpikir “Nabi tidak pernah meninggalkannya”, namun terkadang ia meninggalkannya sampai-sampai terbesit dipikiran kami “nabi tidak mengerjakannya.”


Terakhir terkait faidah dari shalat Duha sendiri, selain riwayat imam Ahmad diatas imam Bajuri mengatakan bahwa shalat Duha mencukupkan sedekah sebanyak persendian manusia, yaitu 30 persendian sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat imam Muslim. Dan dalam riwayat lain mereka yang shalat Duha sebanyak 12 rakaat akan dibangunkan istana di surga kelak.


Sebagai pelengkap, resensi kali ini akan ditambahkan dengan pembahasan bab shalat sunah yang hanya berisi satu hadits.


Rasulullah Saw pernah ditanya tentang shalat di rumah. Beliau pun menjawab bahwa dirinya selalu melaksanakan shalat di rumah namun hal tersebut adalah shalat rawatib.


Imam Bajuri menjelaskan bahwa shalat sunah di rumah lebih jauh dari riya dan lebih dekat pada ikhlas. Sahabat Nabi Ibnu Umar Ra pernah meriwayatkan: “jadikanlah rumah kalian sebagai tempat shalat kalian bukan seperti kuburan”


Namun sebagai catatan, Ustadz Azwar mengingatkan bahwa hal tersebut karena Rumah Nabi dekat dengan masjid. “kalau rumah kalian jauh dan kalian ditunggu sebagai imam, maka ada baiknya laksanakam shalat sunnah di masjid,” tutup Ustadz Azwar.


Semoga kita dapat mengamalkan salah satu sunnah Baginda Nabi ini. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Ali Sayyidina Muhammad. Wallahu a’lam bi al-Shawab.


Bana Fatahillah

34 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.