Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Faidah Ngaji Syamail Muhammadiyah Bab: Seputar Peribadatan Rasulullah SAW (Part III)



Faidah Ngaji Syamail Muhammadiyah

Sabtu, 12 Desember 2020

Bab: Seputar Peribadatan Rasulullah SAW (Part III).


Sabtu 12/12/20, RTM kembali melanjutkan mudzakarah rutinan kitab Syamail Muhammadiyyah karya imam Abu Isa al-Tirmidzi disertai penjelasannya yang berjudul al-Mawâhib al-Ladduniyah milik imam Ibrahim al-Bajuri. Pembahasan kali ini merupakan pembahasan terakhir di bab “Seputar Peribadatan Rasulullah SAW.”


Di awal majelis, ustadz Azwar memulai kajian syamail dengan mengulang beberapa hadits penting di pertemuan sebelumnya. Di antaranya, tentang shalat malam Rasul semalam suntuk (di salah satu malam, bukan setiap malam) dengan hanya membaca satu ayat yang diulang-ulang dan ditadabburi. Ayat yang dibaca ketika itu adalah surat al-Maidah ayat 118:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١١٨)

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 5/118).


Rasulullah mengulangi ayat tersebut dengan meresapi kandungan yang ada di dalamnya; merasakan ketakutan terhadap terhadap azab Tuhan di awal ayat, dan menikmati makna ampunan yang mungkin Allah anugerahkan kepada siapa saja yang Ia kehendaki di akhir ayat. Hadist ini memberikan faidah, bahwa pengulangan satu ayat berkali-kali dalam shalat itu diperbolehkan.


Setelah me-review beberapa hadits sebagai persiapan untuk memulai majelis, ustadz Azwar meneruskan pembacaan kitab Mawahib, yang kali ini dapat kita kelompokkan pembahasannya menjadi dua tema: perihal shalat Rasul dalam keadaan duduk dan shalat rawatib.


Pertama : Ketika Rasulullah SAW Shalat dalam Keadaan Duduk


Hadits pertama yang disebutkan imam Tirmidzi dalam hal ini menceritakan keadaan shalat Rasulullah yang diawali dengan duduk karena membaca surat yang agak panjang. Lalu di akhir surat, ketika ayat tersisa tiga puluh atau empat puluh ayat, beliau berdiri dalam shalatnya dan melanjutkan gerakan shalat seperti biasanya.


Dari hadits ini, imam Bajuri mengambil beberapa faidah: diperbolehkan shalat sunah dalam keadaan duduk walaupun ia kuat untuk berdiri dan diperbolehkan juga shalat diawali dengan duduk lalu diakhiri dengan berdiri, begitu pula sebaliknya.


Di hadist kedua, menerangkan keadaan Rasulullah yang begitu panjang dan khusyuk dalam melaksanakan shalat malam. Terkadang beliau melaksanakannya dengan keadaan berdiri, terkadang pula duduk. Dan ketika melakukannya dengan keadaan berdiri, hingga akhir beliau shalat dengan berdiri. Begitu pula sebaliknya, ketika shalat Rasulullah dalam keadaan duduk, hingga akhir pun demikian.


Dalam hal ini, imam Bajuri menerangkan bahwa memperpanjang bacaan ketika shalat malam itu dianjurkan (sunah). Lalu beliau menerangkan bahwa memperpanjang berdiri itu lebih afdhal dari memperbanyak rukuk dan sujud, sebagai mana pendapat imam Syafi’i.


Ketika kita mencermati dua hadits di atas, seakan-akan ada kontradiksi antarkeduanya; yang pertama, terdapat penggabungan gerakan antara duduk dan berdiri ketika membaca surat, sedangkan yang kedua, menggambarkan shalat Rasul yang konsekuen ketika berdiri maka hingga akhir beliau berdiri dan sebaliknya ketika duduk maka seperti duduk hingga akhir. Imam Bajuri menerangkan bagaimana menggabungkan dua hal tersebut; mungkin Nabi melaksanakan keduanya tapi di waktu yang berbeda (terkadang shalat seperti ini, terkadang seperti itu), sedangkan setiap sahabat meriwayatkan apa yang mereka lihat. Dengan demikian, maka tidak ada kontradiksi.


Dalam Mawahib, imam Bajuri berpendapat bahwa keadaan Rasulullah duduk dalam shalatnya hanya dilakukan ketika beliau sudah beranjak tua (kurang lebih satu tahun sebelum beliau wafat) dan itu hanya di shalat sunah saja. Hal ini berlandaskan dengan hadits Ummu Salamah yang menyampaikan demikian,

والذي نفسي بيده ما مات رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى كان أكثر صلاته قاعدا إلا المكتوبة

“Demi diriku yang ada di tangan-Nya (baca: diriku bersumpah), di akhir hayat Rasulullah, beliau lebih sering menjalankan shalat dengan keadaan duduk kecuali shalat fardhu.”


Namun, ada pendapat lain yang menerangkan bahwa Rasul pernah shalat Fardu dalam keadaan duduk. Di antaranya adalah imam Nawawi dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim bab "Ikutnya Makmum Pergerakan Imam" yang menerangkan Rasul pernah imam shalat Fardhu dalam keadaan duduk lalu memberikan isyarat kepada para makmum untuk mengikuti beliau shalat dengan duduk.


Walaupun Rasul SAW pernah shalat dalam keadaan duduk, duduknya beliau dalam shalat tidaklah mengurangi pahala yang semestinya beliau dapatkan ketika dalam keadaan berdiri—selain Rasul, ketika melaksanakan shalat dalam keadaan duduk, mereka hanya mendapatkan setengah pahala shalat berdiri. Itu merupakan salah satu keistimewaan bagi Rasul SAW.


Kedua : Shalat Sunah Rawatib Rasulullah SAW


Shalat sunah rawatib merupakan shalat sunah yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat Fardhu, yang apabila dijumlahkan rakaatnya maka jumlahnya adalah dua puluh dua rakaat; 2 rakaat sebelum Shubuh, 4 rakaat sebelum dan sesudah Dzuhur, 4 rakaat sebelum Ashar, 2 rakaat sebelum dan sesudah Maghrib, 2 rakaat sebelum dan sesudah Isya. Dan dari 22 rakaat ini, ada sepuluh rakaat yang rutin Rasul lakukan; 2 rakaat sebelum Shubuh, 2 rakaat sebelum dan sesudah Dzhuhur, 2 rakaat sesudah Maghrib dan 2 rakaat sesudah Isya. 10 rakaat ini karena dimulazamah Rasulullah SAW, maka hukumnya menjadi sunah muakadah (sunah yang sangat dianjurkan).


Dalam Mawahib, imam Bajuri menerangkan bagaimana Rasulullah melakukan shalat sunah sebelum subuh (sunnah Fajar). Diriwayatkan bahwa Rasulullah melaksanakan shalat sunah Fajar dengan tempo yang tidak begitu panjang (khafifatain). Oleh karena itu, shalat ini disunahkan untuk meringankan bacaannya. Surat yang sering Rasul gunakan di rakaat pertama ketika shalat sunah Fajar adalah dua ayat terakhir surat al-Baqarah atau surat al-Insyirah dan surat al-Kafirun, sedangkan di rakaat kedua, beliau sering membaca akhir surat Ali Imran atau surat al-Fil dan al-Ikhlas.


Hadits-hadits terakhir yang disebutkan imam Tirmidzi dalam bab ini hanya menguatkan tentang berapa shalat sunah dan sunah Rawatib yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, tidak perlu menyebutkan semua hadits di sini karena rata-rata memiliki esensi makna yang sama.


Di akhir majelis Ustadz Azwar memberi nasihat, setelah mengkaji Syamail ini seyogyanya kita bisa menjadikan Nabi suri tauladan kita di setiap pekerjaan, khususnya dalam hal pertibadatan.


Thoriqulfakhri R

29 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.