Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Faidah Ngaji Syamail Muhammadiyah Bab: Seputar Peribadatan Rasulullah Saw (part II)


Faidah Ngaji Syamail Muhammadiyah

Sabtu, 5 Desember 2020

Bab: Seputar Peribadatan Rasulullah Saw (part II)


Sabtu 05/12/20, RTM kembali melanjutkan mudzakarah rutinan kitab Syamail Muhammadiyyah karya imam Abu Isa al-Tirmidzi disertai penjelasannya yang berjudul al-Mawâhib al-Ladduniyah milik imam Ibrahim al-Bajuri. Kali ini, kita melanjutkan pembahasan sebelumnya dalam bab “Seputar Peribadatan Rasulullah SAW."


Hadits pertama dalam majelis kali ini adalah riwayat Al-Aswad bin Yazid yang menerangkan bahwa ia pernah bertanya kepada sayidah Aisyah Ra perihal shalat malam Nabi SAW. Sayidah Aisyah pun menjawab, “Rasulullah SAW biasa tertidur di waktu awal malam. Lalu di pertengahan malam—kalau malam dibagi enam waktu, maka itu adalah waktu ke empat dan lima, seperti yang diterangkan oleh imam Bajuri—beliau terbangun untuk melakukan shalat. Lalu ketika mendekati akhir malam, beliau melakukan shalat witir. Setelah menyelesaikan shalat, beliau kembali ke tempat tidurnya. Kemudian apabila beliau berhajat kepada istrinya, beliau akan mendatanginya. Ketika Rasul mendengar azan, beliau segera bangun. Apabila ketika itu dalam keadaan junub, beliau segera mandi. Jika tidak, beliau hanya mengambil wudhu dan bergegas untuk melaksanakan shalat shubuh.”


Dalam riwayat ini, kita mendapatkan faidah bahwa dianjurkan tidur lebih awal agar dapat mendirikan shalat malam dan setelah menyelesaikan shalat tak apa beristirahat sebentar demi mendapatkan pagi (baca: shalat Shubuh) yang lebih semangat.

Lalu, kita dapati pula bahwa Rasulullah SAW melaksanakan hajatnya bersama sang istri setelah menyempurnakan ibadah shalat beliau. Melihat fenomena ini, imam Bajuri mengambil faidah: Mengedepankan shalat sebelum menunaikan hubungan suami-isteri, yang mana dalam hal ini merupakan cara Rasulullah menggabungkan hak Tuhannya dan hak keluarganya.


Imam Bajuri juga berkomentar mengenai wudhu beliau setelah bangun dari tidur. Seperti yang kita ketahui, wudhu Rasul tidak batal dengan tidur (ini khusus untuk Rasul, karena hati beliau tidak pernah tidur). Lalu mengapa beliau berwudhu setelah bangun? Hal ini memiliki dua kemungkinan; ada hal selain tidur yang membatalkan wudhu beliau, atau memang beliau berwudhu hanya untuk memperbarui (tajdid) wudhu bukan karena batal.


***

Dalam bab ini juga, ada satu kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas mengenai ahwal Rasulullah SAW ketika bermalam di rumah salah satu Istrinya, Maimunah—yang notabenenya adalah bibi dari Ibnu Abbas. Kala itu, Rasulullah tidur di samping Ibnu Abbas, hingga datang pertengahan malam, Rasulullah bangun seraya mengusap wajahnya dan membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali Imran. Lalu beliau mengambil wudhu dan melaksanakan shalat. Ibnu Abbas yang melihatnya pun ikut mendirikan shalat—sebagai makmum—di samping kiri beliau. Rasulullah pun memberikan isyarat dengan meletakkan tangan beliau ke atas kepala Ibnu Abbas dan menarik telinga Ibnu Abbas agar ia berpindah ke samping kanan. Rasulullah Saw melakukan shalat sebanyak enam rakaat—setiap dua rakaat, beliau salam— kemudian ditutup dengan satu rakaat witir. Lalu beliau melanjutkan istirahat hingga datang Bilal bin Rabah menemui beliau. Lalu, beliau melaksanakan shalat sunah dua rakaat dalam rumah dan bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh.


Disini kita dapat mengambil beberapa faidah:

Pertama, setiap kali terbangun dari tidur, dianjurkan untuk membaca beberapa ayat dari Al-Quran sebagai pengusir syetan dan sebagai pemanasan sebelum melakukan aktifitas ibadah yang lain.

Kedua, ketika shalat berdua (hanya imam dan satu makmum), maka disunnahkan untuk makmum shalat di samping kanan imam.

Ketiga, shalat sunah boleh dilaksanakan berjamaah seperti yang dilakukan Ibnu Abbas.

Keempat, shalat sunah itu lebih afdhal dilakukan di rumah; dan masih banyak lagi faidah yang dapat kita ambil dari hadits ini.


***

Ada satu riwayat yang menarik dalam bab ini karena dapat menciptakan banyak perbedaan pendapat tentang shalat malam pada bulan Ramadhan. Yaitu hadits yang menceritakan tentang shalat Rasulullah pada bulan Ramadhan. Tepatnya ketika itu sayidah Aisyah ditanya oleh Abu Salamah, “Bagaimana shalat Rasul pada bulan Ramadhan?” Sayidah Aisyah pun menjawab,

"ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة، يصلي أربعا لا تسأل عن حسنهنّ وطولهنّ، ثم يصلى أربعا لا تسأل عن حسنهنّ وطولهنّ، ثم يصلي ثلاثا..."

“Rasulullah Saw tidak pernah shalat di malam bulan Ramadhan dan malam lainnya (selain bulan Ramadhan) melebihi sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dengan baik dan panjang, lalu melakukannya kembali empat rakaat shalat dengan baik dan panjang, lalu diakhiri dengan shalat tiga rakaat.”


Ada kalangan yang memaknai hadits ini dari dzahirnya saja dengan mengatakan bahwa shalat tarawih di bulan Ramadhan itu tidak boleh lebih dari sebelas rakaat dan dilakukan empat rakaat-empat rakaat tarawih (delapan rakaat), lalu ditutup dengan tiga rakaat witir.


Imam Bajuri dalam hadits ini tidak berpendapat demikian. Beliau menerangkan bahwa shalat yang dimaksud adalah shalat tahajud yang dilakukan Rasul setelah shalat tarawih di bulan Ramadhan dan bukan shalat tarawih itu sendiri.


Pendapat ini diperkuat dengan lafaz “wa laa fi ghairihi (dan tidak juga di malam lain selain bulan Ramadhan)”, karena tidak ada shalat Tarawih di bulan lain, maka tidak kurang tepat memahami hadits ini dalam konteks Tarawih.


Sedangkan untuk penentuan jumlah rakaat yang disebutkan, menurut imam Bajuri, itu jumlah rakaat yang diketahui oleh sayidah Aisyah saja, karena ketika melihat hadits-hadits lain yang berkaitan, banyak perbedaan pendapat tentang bagaimana dan berapa rakaat Rasul melaksanakan shalat tahajud.


Lalu maksud dari empat rakaat—menurut imam Bajuri—bukanlah dilakukan empat rakaat satu salam, melainkan setiap dua rakaat satu kali salam. Ini dapat dipahami demikian dengan cara mengkomparasi hadits lain—salah satunya adalah hadits riwayat Zaid—yang menerangkan bahwa Rasul melakukan shalat malam dua rakaat-dua rakaat; agar tidak terjadi pertentangan (ta’arudh) antar hadits.


Di akhir hadist ini, sayidah Aisyah bertanya kepada Rasul tentang tidur atau tidaknya beliau sebelum shalat witir. Pertanyaan ini dilontarkan karena sayidah Aisyah mengetahui bahwa Rasul menganjurkan beberapa sahabatnya seperti Abu Hurairah untuk melakukan shalat witir sebelum tidur karena takut terlelap ketika tidur dan meninggalkan sunah witir.


Rasul pun menjawab, “Wahai Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tertidur, tapi hatiku tidak.” Ini memberikan arti bahwa beliau tidur sebelum shalat witir karena tidak takut untuk ketinggalan (beliau dapat memastikan bangun karena hati beliau tidak tertidur). Dari sini, imam Bajuri mengambil faidah: Disunahkan mengakhirkan shalat witir ketika ia yakin dapat bangun malam, sedangkan bagi yang takut terlelap dalam tidur hingga shubuh, maka ia dianjurkan untuk shalat witir sebelum tidur.


***

Hadits yang tidak kalah pentingnya adalah hadits riwayat Hudzaifah bin al-Yaman Ra yang menceritakan secara detil bagaimana shalat malam Nabi Saw ketika ia berada di sampingnya sebagai makmum. Ia menerangkan, ketika Rasul memulai shalatnya, beliau Saw melakukan takbiratulihram sambil berkata: “Allahu akbar, dzul malakut wal jabarut, wal kibriya’ wal ‘azamah.” Lalu beliau membaca surat al-Baqarah, lalu rukuk yang panjangnya hampir sama seperti berdiri, seraya membaca: “Subhana Rabiyal ‘azim, subhana Rabiyal ‘azim.” Lalu melakukan i’tidal yang panjangnya hampir sama dengan rukuk, seraya membaca: “Lirabbiyal hamdu, lirabbiyal hamdu.” Lalu beliau bersujud dengan panjang yang hampir sama pada waktu berdiri, seraya membaca: “Subhana Rabbiyal a’la, subhana Rabbiyal a’la.” Lalu beliau duduk di antara dua sujud yang begitu lama pula, dengan membaca: “Rabbighfirli, Rabbighfirli.” Lalu beliau menyempurnakan shalat seperti demikian di setiap rakaat, dengan membaca surat Ali Imran di rakaat kedua, surat an-Nisa’ di rakaat ketiga dan al-Maidah atau al-An’am di rakaat keempat.


Dalam hadits ini, kita dapati bagaimana Rasulullah begitu lama dan khusyuk dalam menunaikan ibadahnya. Dan perkara pengulangan doa dua kali, ini menurut imam Bajuri bukan mencukupkan dua kali, tapi sebagai isyarat pengulangan doa berkali-kali hingga selesai ke pergerakan selanjutnya.


Dan masih banyak lagi riwayat seputar shalat malam Rasul Saw dalam kitab Syamail milik imam Tirmidzi yang diterangkan di majelis kali ini yang belum kita jabarkan di sini. Hadits terakhir yang diterangkan oleh ustadz Azwar adalah riwayat Abdullah bin Mas’ud Ra, yang menceritakan ketika ia shalat malam hari bersama Rasul. Ibnu Mas’ud berkata,

"صليت ليلة مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم يزل قائما حتى هممت بأمر سوء، قيل له: وما هممت به؟ هممت أن أقعد وأدع النبي صلى الله عليه وسلم"

“Aku pernah shalat bersama Rasul SAW dan beliau SAW begitu lama berdiri dalam shalatnya sampai aku menginginkan sesuatu yang buruk. Seseorang bertanya kepadanya, apa yang kamu inginkan? Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi SAW shalat sendiri.”


Begitulah ibadah Rasulullah Saw. Walaupun beliau maksum dan dijanjikan surga oleh Allah Swt, beliau tetap giat dalam beribadah, sebagai tanda syukur kepada Allah dan sebagai suri tauladan bagi umatnya SAW.


Semoga kita dapat meneladani segala kebaikan dan kemuliaan Rasulullah SAW dalam kehidupan kita baik dari aspek ibadah maupun muamalah beliau, guna merefleksikan serta memotivasi agar kita mampu mengimplementasikan akhlakul karimah yang beliau contohkan pada kita dalam kehidupan sehari-hari. Amin.


Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.


Pajar Tryadi

69 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.