Search
  • Rumah Tahfidz Mesir

Faidah Ngaji Syamail Bab Sifat Tidur Rasulullah dan Perihal Peribadatan Rasulullah Saw (Part 1)




Sabtu 28/11/20, RTM kembali melanjutkan mudzakarah rutinan kitab Syamail Muhammadiyyah karya imam Abu Isa al-Tirmidzi disertai penjelasannya yang berjudul al-Mawâhib al-Ladduniyah milik imam Ibrahim al-Bajuri. Untuk kali ini, pembahasannya adalah bab “Sifat Tidur Rasulullah Saw dan Perihal Peribadatan Rasulullah Saw.”


Sifat Tidur Rasulullah Saw.


Bab ini diletakkan oleh Imam Tirmidzi tepat setelah bab Seputar Obrolan Malam. Urutan ini merupakan peletakan yang sangat tepat karena sesuai dengan urutan aktifitas malam hari.


Tidur merupakan saudaranya kematian. Disebut demikian karena ketika seseorang tertidur, ia berada dalam keadaan hilang kesadaran. Maka, tidur menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Untuk mendapatkan tidur yang produktif dan mengikuti sunah Nabi, kita perlu mengetahui ahwal Nabi ketika tertidur, serta mengetahui apa saja yang dilakukan beliau sebelum dan sesudahnya.


Dalam Syamail, kita dapati beberapa hadist yang menerangkan bahwa keadaan Rasul ketika tertidur, beliau berbaring menyerong ke kanan dan meletakkan telapak tangan sebelah kanan beliau di bawah pipi kanan. Salah satu hikmah yang bisa kita ambil—sebagaimana yang disebutkan oleh imam Bajuri—adalah adanya isyarat yang menunjukkan bahwa sebelah kanan itu lebih mulia dari kiri.


Ada pendapat yang mengatakan posisi tidur serong ke kanan itu menjadikan seseorang tetap waspada dan tidak terlelap dalam tidurnya karena keberadaan jantung ketika itu tidak menetap/menempel langsung dengan bumi. Imam Bajuri tidak sepakat dengan pendapat ini karena dua hal:


Pertama, penisbatan lelap tidur kepada Rasul merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima, karena beliau tidak pernah tidur hatinya (la yanamu qalbuh).


Kedua, apabila seseorang terbiasa tidur menyerong ke kanan, ia pasti akan terbiasa dengan tidur lelap dengan posisi itu, dan sebaliknya, ketika menyerong ke kiri ia tidak bisa tidur. Jika demikian, maka takaran lelap atau tidak adalah ‘adah (kebiasaan).


Terlepas dari perbedaan pendapat tentang hikmah dibalik tidur dengan posisi serong ke kanan karena Rasul melakukan hal tersebut, itu menjadi sunah hukumnya untuk kita kerjakan. Begitulah posisi Nabi ketika tidur. Sekarang kita beralih ke hal-hal yang beliau lakukan sebelum dan sesudah tidur.


Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bara' bin 'Azib, bahwa ketika Rasulullah Saw beranjak tidur, beliau meletakkan telapak tangan sebelah kanan beliau di bawah pipi kanan seraya berdoa,

"رب قني عذابك يوم تبعث عبادك"

“Ya Tuhanku, selamatkanlah diriku dari azabmu di hari Engkau membangkitkan umat-Mu.”


Mengapa Rasulullah memohon pertolongan akan azab, padahal—seperti yang kita tahu—beliau maksum dan tidak mungkin mendapat azab? Imam Bajuri menerangkan bahwa doa Rasul yang demikian merupakan salah satu bentuk dari tawadlu beliau, untuk menunjukkan bahwa Allah SWT. memang berhak disembah dan juga untuk mengajarkan umatnya agar berdzikir sebelum tidur karena bisa jadi itu adalah saat terakhirnya. Berzikir sebelum tidur sangatlah penting, karena kita tidak tahu akankah kita dihidupkan kembali setelah tidur atau tidak dan dengan demikian, keadaan kita tidak terputus dari zikrullah sebelum kita menghadapkan diri kepada Sang Kuasa.


Ada pula hadis riwayat Sayidah Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW. hendak tidur di malam hari, beliau merapatkan kedua telapak tangannya dan meniup nafas diatasnya (redaksi yang dipakai dalam hadis adalah "nafatsa", yang berarti diantara meniup dan meludah, tanpa disertai air liur). Beliau membacakan Surah al-Ikhlas, al-Falaq dan al-Nas, kemudian mengusapkan ke kepala, wajah dan ke badan mulia beliau sebisa mungkin. Dan beliau mengulang-ulang hal itu sebanyak tiga kali.


Sahabat Hudzaifah juga meriwayatkan hadist tentang doa yang sering Rasul panjatkan sebelum tidur dan setelahnya. Ketika beliau beranjak tidur beliau berdoa, “Allahumma bismika amutu wa ahya” dan ketika terbangun beliau berdoa, “Al-hamdu lillahi al-ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaih al-nusyur.” Imam Bajuri menyebutkan hikmah eksistensi berdoa ketika terbangun yang dapat kita ambil adalah menjadikan pekerjaan pertama yang kita lakukan selalu disertai dengan berzikir dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.


Perihal Peribadatan Rasulullah Saw


Setelah membahas sifat tidur Rasulullah Saw., kita memasuki bab tentang ibadah beliau. Kedua bab ini disandingkan, karena tidurnya Rasulullah Saw. juga ibadah. Ketika kita ingin menjadikan tidur kita ibadah, seyogyanya kita meniru bagaimana cara tidur Rasul, seperti yang dijelaskan di atas atau seperti yang tertera dalam kitab al-Adzkar an-Nawawi.


Dalam bab ini ada dua puluh empat hadis yang menerangkan perihal peribadatan Rasul. Hadis pertama, menceritakan bahwa Rasulullah Saw. shalat sampai kakinya bengkak. Salah satu sahabat yang melihat hal itu—ada riwayat yang mengatakan bahwa beliau adalah Sayidina Umar bin Khattab Ra—berkata, “Ya Rasulallah mengapa engkau bersusah payah? Padahal Allah Swt telah mengampuni dosa engkau yang dahulu dan kemudian.” Rasulullah Saw pun menjawab, “Afalaa akuuna 'abdan syakuura (tidakkah aku menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur?).”


Ketika melihat zahir hadis ini, kita dapati seakan-akan Rasulullah Saw punya dosa, padahal beliau ma'shum. Perlu kita ketahui bahwa kata 'dosa' di sini bukan sebagaimana yang kita pahami. Ini masuk dalam kategori “Hasanaatul Abrori Sayyiatul Muqorrobin.” Yang artinya ada hal yang menurut orang awam merupakan kebaikan, itu masih dianggap kurang baik bagi Muqorrobin (orang-orang dekat dirinya dengan Allah Swt.) karena masih ada kebaikan diatasnya lagi.


Lalu di hadis kedua dan ketiga, bercerita dengan isi yang hampir sama, dengan sanad yang berbeda. Hadis ini diulang-ulang, sebagai ta'kid bahwa begitulah hal Rasulullah SAW. Kita memang dianjurkan untuk susah payah dalam beribadah walau membuat lelah, asal tidak menjadikan kita bosan.


"Beliau aja yang tidak punya dosa, beribadah sampai begitu. Seharusnya kita malu, kita merasa aman sehingga kita tidur nyenyak. Minimal kita ada waktu di malam hari untuk sholat, walau sebentar. Walau hanya dengan surah Al-Ikhlas dan Al-Kautsar, insyaallah nanti akan ditingkatkan. Kita niatkan untuk ikut Rasulullah SAW, walaupun dengan satu sunnah, siapa tahu dengan sunnah ini, kita dikenal oleh Rasulullah SAW", begitu Ustadz Azwar menasehati.


Wallahu alam bissawab.


Athi Dina Nasicha



74 views0 comments

Jl. Bahauddin no. 26 Gamalia, Hussein, Darrasah, Kairo. 

+201012147959

©2019 by Rumah Tahfidz Mesir.